Selasa, 30 Oktober 2018

ALANGKAH INDAHNYA MENJADI ANGGOTA MUDA GSSTF 2018


Anggota Muda GSSTF UNPAD 2018


Tanggal 26-28 Oktober 2018 adalah tanggal dan hari yang spesial dalam hidupku. Karena pada tanggal 28 Oktober 2018 yang juga bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, aku dan kawan-kawan resmi diterima sebagai anggota muda GSSTF (Gelanggang Seni Sastra Teater dan Film) UNPAD. Mimpiku seakan menjadi kenyataan, dan memang mimpiku kini telah menjadi nyata. Sebelum diterima dan masuk di UNPAD, aku sudah mengincar GSSTF jika memang aku diterima di kampus yang digandrungi calon mahasiswa di Indonesia itu. Sederhana, aku hanya suka menulis dan ingin menjadi penulis. Maka dari itu, GSSTF adalah wadah yang cocok bagiku untuk mengembangkan bakat menulisku.
            Diterima menjadi anggota muda alias angmud bukanlah hal yang mudah. Kami harus melalui beberapa rangkaian terlebih dahulu. Pertama, kami harus mendaftar dan wawancara terlebih dahulu. Aku sendiri di wawancarai langsung oleh Teh Esa selaku Lurah GSSTF UNPAD 2018. Aku menjawab semua pertanyaannya dengan begitu baik, ditengah menjawab pertanyaan aku pun diminta untuk membacakan sebuah puisi. Awalnya aku gugup, namun aku harus bisa membuktikannya, akhirnya aku pun mampu membacakan sepenggal puisi meski belum maksimal 100%.
            Pada tanggal 30 September 2018, GSSTF melakukan Parade atau pertunjukan 5 Mahakarya yang diselenggarakan di Dago Tea House, Bandung. Tanpa pikir panjang aku pun langsung membeli tiketnya karena sangat disarankan oleh kakak tingkat di GSSTF karena dengan begitu aku bisa melihat karya dari GSSTF. Benar saja, karya-karya mereka begitu spesial hingga aku terkagum-kagum dibuatnya. Yang aku tidak bisa lupakan adalah pementasan teater yang berjudul “PERIHAL ORANG MISKIN YANG BAHAGIA”. Akting mereka begitu totalitas, dari mulai intonasi, pergerakan, dan juga penguasaan panggung. Selain itu, tata rias, lighting, dan musiknya pun begitu mendukung hingga ending yang membuatku tak bisa melupakannya sampai saat ini.
            Satu minggu setelahnya, barulah rangkaian pertama atau PDS 1 (Pendidikan Dasar Seni) dimulai. Kami dibagi dalam beberapa kelompok. Aku pun jatuh di kelompok Snow White. Jadi, setiap kelompok harus memakai kostum sesuai dengan nama kelompoknya. Aku pun berperan sebagai rusa yang ada dalam peran Snow White. Baru pertama kalinya aku memakai kostum-kostum seperti itu. Namun sejujurnya aku bahagia karena bisa menyingkirkan rasa maluku ketika harus berjalan-jalan keliling kampus menggunakan kostum unik seperti itu wkwk. Selain itu, di salah satu pos kami diharuskan menampilkan sebuah pentas teater singkat dengan tema yang sudah ditetapkan setiap kelompoknya. Kelompokku mendapatkan tema tentang kejujuran. Dan alhasil, kelompokku mampu keluar sebagai juaranya wkwk tanpa disangka-sangka karena konsep yang dirasa belum terlalu baik.
Calon Anggota memakai atribut sesuai tema kelompoknya
            PDS 1 selesai, PDS 2 pun datang. Untuk PDS 2 ini, kami para CAANG (Calon Anggota) diwajibkan mengikuti kelas selama dua minggu berturut-turut dengan setiap minggunya agenda kelas Senin-Jum’at jam 4 sore. Disitu kami diberikan materi mengenai kelas sastra, teater, film, dan juga artistik. Meskipun aku ada kesibukan lain, aku usahakan untuk datang kelas meski harus telat karena itu sangat berharga bagiku.
Kelompokku (Snow White) berhasil menjadi yang terbaik dalam pementasan

            Sebelum PDS 2 berakhir, kami pun diberikan tugas oleh panitia untuk membuat film dan menampilkan tetaer saat PDS Puncak. Agenda perkuliahan ku pun semakin padat dan mau tidak-mau harus mampu membagi waktu untuk syuting film meski sampai larut malam bahkan menginap di lokasi syuting ceileh wkwk. Film yang kelompok kami buat ialah tentang seseorang bernama Bias yang hidupnya sangat bebas tanpa memperdulikan orang-orang di sekitarnya. Begitu pula teater dengan judul yang sama, namun penampilannya yang berbeda. Kami syuting film kurang lebih memakan waktu sekitar satu minggu, dan itu sangat ku nikmati prosesnya.
Proses editing film kelompokku
            Tak terasa, malam puncak pun tiba. Sebelum malam puncak tiba, aku dan teman-teman disibukkan mencari dan menyiapkan barang bawaan dari yang kecil hingga besar karena kami akan menginap tiga hari di tempat yang bernama “Sekolah Alam Pelopor” yang berlokasi di Rancaekek, Bandung. Aku begitu menantikan PDS Puncak tersebut.
            Hari pertama (tepatnya di malam hari), panitia pun menayangkan film dari masing-masing kelompok untuk dinilai. Aku begitu antusias menunggu film dari kelompok lain sekaligus was-was dengan film kelompokku sendiri wkwk. Kelas pun selesai pukul setengah dua belas malam. Aku begitu mengantuk dan langsung tertidur bersama di suatu ruangan kelas seperti PAUD.
Ruangan tidur
            Sekitar jam 4.30 pagi kami dibangunkan untuk shalat shubuh. Setelah itu, kami pun berlari tanpa menggunakan alas kaki mengelilingi perkampungan warga. Rasanya segar sekaligus kaki terasa cukup sakit menginjak bebatuan kecil. Dan hal itu merupakan bagian dari kelas teater karena seorang pementas/pemain teater harus mempunyai fisik yang kuat agar saat di panggung mampu memberikan penampilan yang terbaik.
            Setelah lari selesai, kami pun masuk ke materi teater yang materinya dibawakan oleh Kang Syahan alumni GSSTF 2010 dan merupakan sutradara pementasan “Kepada Gemma”. Disitu aku dan teman-teman begitu senang menerima materi dari Kang Syahan. Sebelum kelas teater berakhir, Kang Syahan meminta kami untuk tidak mengedipkan mata selama lima menit. Dan jujur, itu merupakan hal yang cukup sulit sehingga air mataku pun menetes perlahan karena perih terasa. Namun dibalik itu semua, aku merasakan hikmahnya yang amat dalam : bersyukur.
Kelompokku (7) peraih teater dan artistik terbaik :D
            Selanjutnya kami pun menerima materi dari kelas sastra yang dibawakan oleh Kang Ridho alumni GSSTF 2014. Disitu kami banyak berbincang mengenai sastra yang semakin kesini semakin mengalami penurunan. Satu hal yang menarik adalah ketika Kang Ridho meminta kita untuk membuat suatu cerita perkelompok dari benda-benda kesayangan kita meski saat itu pula aku baru mendeklarasikan benda kesayanganku : kertas. Aku satu kelompok dengan teman yang menyangi benda pulpen dan botol minum. Di dalam cerita itu, antara pulpen, kertas, dan botol minum saling berinteraksi dalam sebuah percakapan.
Makan bersama
            Kelas selanjutnya yaitu kelas artistik. Kami diajari dalam bermake-up (tata rias) untuk suatu pementasan, konsep lighting, properti, dan juga musik. Karena dalam pementasan teater aku berperan sebagai pengendali lighting, aku pun lebih memperhatikan dengan jeli agar malam nanti aku bisa tampil maksimal membantu para actor yang tampil diatas panggung.
Aktor dalam pementasan teater sekaligus lighting dikendalikan olehku wkwk saat suasana marah (merah)
            Sore harinya, kami kedatangan seorang tamu yang amat spesial. Aku pun sama sekali tidak menyangka bahwa sosok sepertinya akan datang memberikan suatu cerita kepada kami para pecinta proses. Tamu itu adalah Bang Putrama Tuta seorang sutradara yang telah menyutradarai beberapa film. Diantaranya adalah film “Catatan Harian Si Boy” dan yang terbaru ini adalah film tentang kehidupan Pak Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok yang berjudul “A Man Called Ahok”. Bang Tuta bercerita mengenai pengalaman pertamanya membuat film, yaitu film “Catatan Harian Si Boy” yang tayang saat tahun 2011. Dia memberikan video tentag pembuatan film tersebut, behind the scene nya, hingga hal-hal teknis lainnya. Dan yang terakhir Bang Tuta menampilkan trailer film “A Man Called Ahok” yang akan segera tayang du bioskop Indonesia. Quote yang saya ingat dari Bang Tuta adalah “jangan menjadi pekerja film, tapi jadilah pembuat film”. Menurutnya, seorang sutradara bukanlah ‘Tuhan’, film yang baik bukan datang dari kru-kru yang bekerja untuk sutradara namun film yang baik adalah mengenai kru-kru termasuk sutradara yang berkarya untuk film.
            Detik, menit, jam pun berlalu. Kami pun makan bersama di sebuah panggung mini dalam suasana malam yang begitu hangat namun dingin. Disitu sangat terasa sekali kekeluargaannya. Dalam hati aku berkata, aku akan bahagia jika bisa terus bersama mereka.
Sebelum pementasan kelompok 7 wkwk
            Dan detik-detik pementasan teater pun semakin dekat. Sehabis makan (tepatnya setelah shalat isya), masing-masing kelompok pun bersiap-siap menyiapkan kostum dan segaa macamnya untuk pementasan teater. Setengah jam kemudian, pementasan teater pun dilaksanakan. Kebetulan kelompokku tampil di urutan ke-6 dari 7 penampilan sehingga aku dan teman kelompokku bisa melihat kelemahan dari kelompok lainnya.
            Satu, dua, hingga lima kelompok sudah menampilkan pementasan teaternya dengan cukup baik. Namun aku yakin bahwa kelompokku akan tampil lebih baik. Aku sebagai pengendali lighting pun stand by dibawah panggung untuk mengkondisikan warna-warna lampunya. Disampingku ada yang memegang bagian musik. Disitu aku berdoa agar aku dan teman-temanku diberikan kelancaran dalam pementasan. Lampu utama pun dimatikan, ruangan gelap seketika. Panitia membuka pementasan kami : “Gelanggang Seni Sastra Teater dan Film mempersembahkan ‘BIAS’ karya kelompok 7, SELAMAT MENYAKSIKAN”. Seketika aku langsung menyalakan tombol lighting dan memutar lampu berwarna netral untuk menyorot sang tokoh utama bernama Bias itu. 10 menit berlalu, dan pementasan pun selesai. Lega rasanya, tak ada cacat sedikit pun. Aku pun mengucap syukur dalam hati. Lalu kami pun dipersilahkan berjajar diatas panggung untuk mendengarkan komentar dari para juri.
Mendengar komentar para juri
            Pementasan ketujuh kelompok pun selesai sekitar pukul 23.45 dan kami pun kembali ke ruangan tidur (cewek dan cowok terpisah di satu ruangan besar) untuk beristirahat. Sekitar jam 00.15 kami terbangun dari tidur pulas karena ada ketukan pintu..... dari panitia yang langsung menyuruh kami untuk kembali ke ruang pementasan teater tadi.
            Dengan mata yang berat kami dikumpulkan di satu ruangan untuk proses evaluasi kegiatan di hari itu dan pastinya penuh kedramaan wkwk. Setelah berjam-jam berevaluasi kegiatan, kami pun diminta untuk berdiri dengan mata yang masih berat wkwk. Disitu kami ditanya oleh seorang panitia : “Siapa disini yang merasa pantas untuk menjadi anggota GSSTF 2018 angkat tangannya?!”. Beberapa orang pun mengangkat tangannya dengan ragu-ragu dan percaya diri.
Angkat tangan!
            Setelah satu orang diintrogasi dan diberi sebuah syal kebanggaan, berangsur-angsur lah para calon anggota mengangkat tangannya tinggi-tinggi tanpa memperdulikan kengantukannya yang sudah melanda seisi jiwa. Termasuk aku yang mengangkat tangan dengan penuh percaya diri dan mengutarakan motivasi, kontribusi, dan alasan mengapa aku pantas diterima sebagi anggota muda GSSTF UNPAD 2018.
Sekitar tengah malam untuk evaluasi
 
Ketika rasa kantuk makin melanda
            Tak terasa adzan shubuh pun berkumandang. Kami semua sudah memegang syal masing-masing. Suasana yang mengharu biru ketika para kakak tingkat memakaikan syal kepada para anggota baru, berpelukan satu sama lainnya dengan kelompok masing-masing karena telah bekerja sama kurang lebih satu bulan dari PDS 1, PDS 2, pembuatan film dan latihannya, pembuatan naskah teater dan latihannya, dan banyak hal lainnya.
            Setelah berdrama-drama akhirnya kami pun shalat shubuh terlebih dahulu sebelum istiraha untuk tidur karena kalau dihitung-dihitung sudah lebih dari 24 jam kami tidak tidur. Sekitar jam 2 siang kami pun memilih ketua angkatan anggota baru, dan nama ketua angkatan baru itu adalah Intan. Sekitar jam 15.30 kami bersiap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing menggunakan angkutan umum yang sudah di sewa sama seperti keberangkatan sebelumnya.
            Aku dan teman-temanku pun sudah resmi menjadi anggota muda GSSTF UNPAD 2018 dan berhak tidur di sekre wkwk dan tentunya ikut berproses bersama dalam menggarap suatu produksi, menciptakan seni yang seindah-indahnya. Mampu bermanfaat dan terkenang hingga akhir khayat.


Senang terasa
Ku bisa berada diatara mereka pencinta seni
Penikmat proses
Tiada perbedaan diantara kita
Kita bersama dari awal hingga akhir
Kelak, jangan pernah lupakan daku bila kata ‘berpisah’ kembali menggaung
Ingatlah, kita pernah berjuang bersama demi dapatkan satu syal
Bukan tentang syal semata, namun makna dibaliknya
Kita berjuang rela mata tak tertutup 24 jam
Merelakan tubuh yang semakin lemah namun tetap berdikari
Kalian memang terhebat
Aku ucapkan ini ‘ATAS NAMA CINTA’

                                                                                                                                    SEKIAN
     Jatinangor, 30 Oktober 2018
           Salam dariku, Erfransdo

Kamis, 20 September 2018

Kesan Pertama Masuk UNPAD :)




Masa-masa jatuh telah ku lalui dengan penuh perjuangan dan percaya akan balasan yang amat indah. Balasan indah pertama ialah ketika tanggal 3 Juli 2018, dimana itu adalah pengumuman hasil SBMPTN yang menempatkanku di Agroteknologi Universitas Padjadjaran. Rasanya hampir tidak percaya karena kampus itu terlalu jauh untuk ku gapai beberapa tahun lalu karena prestasiku yang tidak terlalu mentereng. Namun sepertinya Allah ingin melihatku berjuang lebih sunggug-sungguh sehingga aku bisa mewujudkan salah satu impianku itu.

Balasan kedua adalah ketika tanggal 23 Agustus 2018, satu hari setelah Lebaran Idul Adha. Sebenarnya aku merasakan dua hal sekaligus, pertama senang dan kedua sedih. Senang karena aku akan memulai petualangan baruku di sebuah universitas terfavorit dan ternama di Indonesia demi sebuah mimpi yang patut aku perjuangkan. Sedih karena aku akan meninggalkan orang-orang tercintaku selama beberapa tahun ke depan demi mewujudkan mimpiku. Tak terasa waktu terlalu cepat berlalu, aku merasa bahwa kemarin aku masih diantar ibuku ke sekolah TK. Aku merasa baru kemarin tidur dipangkuan ayahku ketika aku asyik menonton TV. Aku merasa baru kemarin bermain layang-layang dan kelereng bersama teman masa kecilku. Aku merasa baru kemarin kerja kelompok dan mempresentasikan tugasku di hadapan guru saat SMP dan SMA. Kini statusku sebagai siswa telah lepas dan naik pangkat menjadi mahasiswa. Sebuah anugerah terindah yang Allah pernah berikan kepadaku.

Gerbang Masuk ke Universitas Padjadjaran


Kesan pertamaku ketika masuk ke dalam gerbang kampus Unpad adalah rasa takjub yang tiada tara. Dalam hati aku berpikir, ‘kok ini kampus luas bangettt ya, mana masih ada kampusnya di daerah lain’. Disaat itu pula aku merasa bangga pada diriku sendiri bisa memasuki gerbang sebagai bagian dari keluarga mahasiswa Unpad. Orangtua dan keluarga kecilku pun merasakan hal yang sama sepertiku dan mereka bangga terhadapku. Salah satu mimpiku selanjutnya tercapai, melihat orang-orang tercintaku bahagia dengan apa yang aku dapat.

Turun dari mobil, aku merasa bahwa aku sedang dalam mimpi atau tidak ya? Dan ternyata aku ada dalam kehidupan yang real. Pepohonan asri, bangunan-bangunan megah, tentunya para masyarakat kampus. Ya Allah, Engkau telah mewujudkan salah satu mimpiku. Menginjakkan kaki saja aku sudah merasa takjub sekali. Fakultas yang aku lihat pertama kali adalah FIB (Fakultas Ilmu Budaya) dan FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) karena tempat sementaraku dekat dengan fakultas-fakultas itu. Masya Allah, indah nian pemandangan ini. Dulu, aku hanya bisa melihat kampus ini di internet, itu pun rektoratnya saja. Kini aku bisa melihat sepuasnya sampai ke dalam-dalam. Doaku sungguh telah didengar oleh-Nya.

Rektorat Universitas Padjadjaran


Tak terasa detik demi detik berlalu, menit demi menit berlalu, dan jam demi jam pun telah berlalu. Keluargaku tak bisa lama-lama bersamaku meskipun aku sangat menginginkannya. Sebelum dzuhur tiba, aku berpamitan dengan keluarga tercintaku terutama kedua orangtuaku. Rasa haru menyelimuti kami. Berat sekali rasanya meninggalkan orang yang kita cinta dan sayang. Sebenarnya aku berusaha sekali untuk menahan air mata ini jatuh ke pipiku, namun apa daya rasa haru tak bisa ku bendung ketika melihat ibuku menitikan air mata hendak meninggalkan anak tersayangnya. Air mata pun mengalir di pipiku, aku lupa kapan terakhir kali aku menangis sebelum hal itu terjadi. Ayahku pun sama halnya denganku, aku yakin ia sedari tadi menahan laju air matanya namun tak bisa terbendung. Mereka masuk ke dalam mobil hendak pulang ke kampung halamanku, sementara aku menetap disini selama beberapa tahun ke depan demi mereka orang tercintaku.

Tacin alias Tanjakan Cinta UNPAD


Setelah keluargaku pulang, aku mencoba untuk berkeliling kampus meski belum tahu area-areanya. Namun aku tak perlu khawatir karena cukup banyak masyarakat kampus sehingga aku bisa bertanya kepada mereka. Hal pertama yang aku cari ialah Fakultas Pertanian, ya karena itu merupakan fakultasku di Unpad. Ternyata jaraknya cukup jauh dari tempatku sehingga aku berkeringat penuh mengingat cuaca saat itu sedang panas-panasnya. Aku bisa sampai ke fakultas pertanian karena diberikan petunjuk oleh pak satpam yang menjaga posnya.

Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Gedung Dekanat)


Ketika aku sampai di fakultas pertanian, cuacanya berbeda dengan di jalan tadi menuju fakultas ini, cuacanya begitu sejuk meski sedang panas karena di kanan kiri menjulang beberapa pohon besar dan tinggi. Tak heran karena itu merupakan fakultas pertanian untuk menjadi ciri khas/pembeda dari fakultas-fakultas lain meski sebagian fakultas ada yang dikelilingi banyak pohon juga. Dalam hati aku berpikir bahwa aku akan nyaman dan betah kuliah di fakultas pertanian ini karena suasananya adem dan sejuk cocok untuk kegiatan belajar bagi para mahasiswa. Aku pun mencoba untuk mengabadikan moment tersebut dengan memotret beberapa bangunan fakultas pertanian beserta papan namanya.

Setelah puas berkeliling, aku pun memutuskan untuk kembali ke tempat tinggalku sementara. Aku melihat cukup banyak bis-bis kampus Unpad berkeliaran yang di dalamnya ada beberapa mahasiswa meskipun saat itu masih hari libur bagi mahasiswa. Daripada capek-capek berjalan kaki dengan cuaca yang panas, aku pun memutuskan untuk menaiki bis itu meski aku tak tahu bagaimana caranya. Untuk itu, aku pun mencoba bergabung bersama kakak tingkat yang sedang menuju bus juga lalu menaiki bis bersama. Apa yang terjadi? Ya aku tersesat, aku tidak kembali ke tempatku melainkan aku turun di Fakultas Kedokteran Gigi Unpad dan aku merasa sangat asing dengan tempatnya. Aku pun berusaha untuk mencoba tenang karena aku masih berada di dalam lingkungan kampus. Aku berjalan kaki siapa tahu aku bisa menemukan tempatku. Selang beberapa menit kemudian aku kembali menaiki bis kampus dan alhamdulillah aku sampai ke tempat tujuanku wkwk.

Bus angkutan khusus mahasiswa UNPAD


Aku merasa lapar saat itu (sekitar pukul 2 siang) dan mencoba untuk ke luar gerbang kampus untuk membeli makanan meskipun sudah dibawakan bekal oleh orangtuaku. Itu aku lakukan untuk lebih mengenali daerah kampusku, Jatinangor. Bekal dari ibuku akan aku makan nanti malam. Berjalan sekitar 100 meter aku pun mendapati sebuah rumah makan yang cukup terjangkau. Aku membeli nasi, ayam, tahu, dan sambalnya dengan harga Rp. 10.000,00. Aku meminta penjual untuk membungkusnya sehingga aku bisa memakannya di tempat tinggal sementaraku. Setibanya di tempat tujuan, aku langsung menyantap makanan tersebut hingga habis.

Singkat cerita, aku pun tidur sekitar jam 11 malam. Aku merasa nyaman meskipun masih hari pertama. Aku yakin, ini semua berkat doa kedua orangtuaku. Aku pun tidur dengan cukup pulas dan shubuhnya aku bangun untuk shalat shubuh berjamaah dengan para mahasiswa baru lain yang baru datang bersamaan denganku saat kemarin.

*sebagian foto di ambil dari internet karena foto-foto pertamaku di Unpad terhapus dan males foto-foto lagi wkwk