https://www.histats.com/viewstats/?act=1&operation=1002&u=1993123xc1bd05b8b

Senin, 15 Juli 2019

Memanjakan Mata dengan Keanekaragaman Hayati di Kebun Raya Cibodas




Pada tanggal 12 Desember 2018 yang lalu, aku dan teman-teman melakukan kegiatan kuliah lapangan di Kebun Raya Cibodas yang terletak di Kompleks Hutan Gunung Gede Pangrango, Desa Cimacan, Cipanas, Cianjur. Disana kami disuguhi berbagai pemandangan yang begitu indah memanjakan mata. Udaranya begitu dingin, kebetulan lokasinya tepat berada di pegunungan. Kebetulan juga saat itu sedang masuk musim hujan, jadilah kami harus memakai pakaian berlapis agar tidak kedinginan. Ketika sampai disana pun, gerimis sudah jatuh membasahi tubuh kami.

Beberapa dari kami pun memilih untuk berteduh terlebih dahulu, namun ada juga yang dari kampus sudah melakukan persiapan dengan membawa payung. Dosen-dosen kami yang membawa anaknya pun berteduh dahulu, ada juga yang membawa jas hujan. Aku yang tak membawa payung atau jas hujan pun ikut berteduh bersama teman-teman di ruangan yang cukup besar yang ada di Kebun Raya Cibodas meskipun aku sendiri memakai topi. Di ruangan itu ada beberapa foto atau gambar mengenai informasi yang ada di Kebun Raya Cibodas.



Setelah beberapa menit berteduh, hujan pun mereda. Sebenarnya bukan hujan sih, hanya gerimis saja. Namun ya karena kebanyakan orang Indonesia takut dengan air hujan, kegiatan pun sempat tertunda selama beberapa menit.

Disana kami dipandu oleh dua orang yang sudah ahli dalam ilmu botani. Mereka adalah peneliti yang ada di Kebun Raya Cibodas. Aku lupa nama mereka berdua, yang aku ingat adalah bahwa salah satu peneliti sedang menempuh S2 di perguruan tinggi yang ada di Bogor. Peneliti itu menyelesaikan S1 nya kalau tidak salah di daerah Jawa, entah Universitas Diponegoro atau Universitas Airlangga atau Universitas Jenderal Soedirman, aku tidak begitu ingat.

Kami dibagi menjadi dua tim, yang satu dengan peneliti yang sedang menempuh S2 itu, dan satu tim lagi dengan seorang peneliti yang lebih senior dari peneliti tadi. Kebetulan aku kebagian di tim—sebut saja Kak Andi, karena aku mengingatnya begitu hehehe. Kak Andi ini yang sedang menempuh S2 itu. Tim kami diberi nama tim 1 sementara tim yang satunya lagi diberi nama Tim 2—tidak ada istimewanya ya wkwk.

Pertama-tama, Kak Andi memperkenalkan Kebun Raya Cibodas Cianjur ini kepada kami sambil menggunakan TOA karena jumlah kami para mahasiswa cukup banyak ditambah sedang berada di lapangan yang terbuka. Kami diberi tahu mengenai asal-mula Kebun Raya Cibodas ini, mulai dari sejarah berdirinya, siapa saja pengelolanya, apa saja yang ada di dalamnya, fungsinya, sampai penjelasan mengenai Kebun Raya yang ada atau tersebar di Indonesia, seperti Kebun Raya Bogor yang ada di—ya Bogor pastinya hehe.

Banyak dari kami yang merekam penjelasan Kak Andi menggunakan gadget-nya masing-masing, ada pula yang mencatatnya di buku catatan kecil ataupun buku kuliah, dan ada pula yang hanya mendengarkan—entah mengerti atau tidak gekgekgek 😊. Aku sendiri mengkolaborasikan ketiga hal tersebut. Jika dirasa terlalu cepat menerangkan, aku pun mengeluarkan handphone lalu merekamnya. Jika dirasa bisa dicatat, aku pun mencatatnya di buku catatan kecil. Namun jika dirasa begitu rumit untuk dicatat, aku memilih untuk mendengarkannya saja sambil menikmati udara disana.

Setelah Kak Andi selesai menjelaskan mengenai sejarah dari Kebun Raya Cibodas ini, kami pun diajaknya berkeliling Kebun Raya Cibodas untuk melihat berbagai macam tumbuhan atau tanaman yang ada disana. Sejauh mata memandang, aku menyaksikan rumput yang begituuu luas ditambah dengan pemandangan indah pepohonan yang menjulang besar. Kami begitu dimanjakan dengan keanekaragaman hayati yang ada disana.



Namun kami tidak bisa leluasa kesana-kemari sendiri-sendiri melihat keindahan pepohonan besar itu karena kami harus terus-menerus berada dalam rombongan untuk mendengarkan penjelasan dari Kak Andi. Bukan takut kesasar atau apa, namun kami harus menyimak penjelasan Kak Andi karena minggu depannya setiap mahasiswa harus membuat laporan kuliah lapangan untuk kemudian dipresentasikan di depan kelas. Jadi, kami pun tidak bisa bebas berjalan-jalan karena disana kami bukan untuk berjalan-jalan, namun kuliah lapangan. Namun meskipun begitu, ada saja mahasiswa yang nakal memisahkan diri dari rombongan dan memilih untuk berburu foto untuk dijadikan kenang-kenangan—termasuk aku ini hahaha.



Tumbuhan yang pertama kali Kak Andi perkenalkan kepada kami adalah pohon bernama Macadamia sp. Marga Macadamia mempunyai 9 jenis, termasuk ke dalam suku Proteaceae, terdistribusi dari Australia sebelah timur 7 spesies, dan dari Indonesia (Sulawesi) ada 1 spesies yaitu Macadamia hildebrandii (C.G.G.J. Van Steenis, 1958). Aku cukup takjub mendengarkan penjelasan dari Kak Andi yang begitu lancar seakan tumbuhan atau pepohonan itu menjadi temannya saja. Aku selalu siap siaga memegang handphone untuk merekam penjelasan Kak Andi yang begitu serius dan jelas.

Selanjutnya kami dikenalkan dengan pohon bernama Castanopsis javanica yang termasuk  dalam suku Fagaceae. Pohon yang cukup besar ini bisa mencapai tinggi 400 m dengan diameter 100 cm. Batangnya lurus dengan kulit luar beralur dangkal. Daunnya agak berbentuk bulat panjang agak jorong, permukaan atasnya berwarna hijau abu-abu dan permukaan bawahnya berwarna coklat keemasan.

Castanopsis javanica


Tak lama setelah itu kami dikenali lagi dengan pohon atau tumbuhan yang lainnya. Kali ini Kak Andi memperkenalkan Cinnamomum burmannii atau biasa kita kenal dengan kayu manis. Kayu manis merupakan jenis tumbuhan Angiospermae atau tumbuhan dengan berbiji tertutup. Angiospermae merupakan tumbuhan berbiji (Spermatophyta) selain tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae).

Spesies kayu manis ini berasal dari Indonesia dan beberapa negara di Asia Tenggara. Tumbuhan ini biasa digunakan sebagai rempah-rempah, tanaman hias, maupun tanaman hutan. Kulit kayu C. burmannii memiliki bau aromatik sehingga sering digunakan sebagai bumbu (kayu manis), parfum, maupun obat-obatan.







Aku pun tidak lupa untuk mengabadikan pohon-pohon yang berada di Kebun Raya Cibodas ini, termasuk pemandangan indah lainnya dari keanekaragaman hayati di tempat ini. Berbicara tentang keanekaragaman hayati, bulan Mei 2019 lalu atau dua bulan yang lalu Indonesia memperingati Hari Keanekaragaman Hayati 2019 yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Dalam acara peringatan tersebut, Indonesia disebut sebagai negara dengan keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia dibawah Brazil yang menempati peringkat pertama. Tidak heran sih karena di bumi pertiwi tercinta ini banyak sekali jenis-jenis tumbuhan dan hewan yang tersebar di ribuan pulau Indonesia, termasuk di Kebun Raya Cibodas, Cianjur.

            Lanjut lagiiii

Kali ini kami diajak ke arah utara. Dari berbagai pohon yang aku lihat saat itu, aku hanya mengenali satu saja. Aku seperti tidak asing dengan pohon dan buahnya. Disana aku menemukan pohon pinus atau nama latinnya adalah Pinus merkusii. Pinus ini merupakan tumbuhan runjung (Pinophyta) dengan daunnya yang berbentuk seperti jarum. Tumbuhan ini berumah satu, dengan kata lain bahwa organ kelamin jantan dan betinanya terpisah namun masih dalam satu individu. Bentuk pohonnya seperti kerucut.




Buah pinus

Selain melihat pohonnya, aku pun menemukan buahnya di sekitaran area pohonnya. Buah pinus biasa disebut sebagai kacang pinus. Awalnya aku tidak tahu bahwa kacang pinus bisa dimakan, tapi mendengar penjelasan dari Kak Andi ternyata kacang pinus memang bisa dimakan. Ya iyalah namanya juga kacang hehe. Menurut Kak Andi, kacang pinus ini adalah biji dari pohon pinus yang dapat dimakan. Namun meskipun bisa dimakan, produksi kacang ini untuk dikomersialkan masih terbatas karena ukuran dan hasilnya yang tidak banyak.

Setelah berkeliling melihat dan mengamati pepohonan yang ada disana, kami pun dikenali oleh Kak Andi dengan berbagai tanaman yang bisa dimanfaatkan sebagai obat-obatan alami. Disitu kami diperkenalkan dengan tanaman bernama Centella asiatica (L.) Urb atau yang sering kita kenal sebagai pegangan atau antanan yang konon juga katanya dapat digunakan sebagai obat peningkat daya ingat. Coba aja guys hehe. Tanaman ini tumbuh liar didekat sawah atau didekat selokan-selokan. Pegangan atau antanan ini dapat dimakan secara langsung dapat juga sebagai lalapan atau campuran untuk membuat asinan. Selain sebagai sumber pangan, pegangan juga dapat bermanfaat bagi kesehatan diantaranya sebagai pereda demam, wasir, bisul, mengobati mata merah, batuk kering, bahkan untuk menambah nafsu makan serta mengatasi darah tinggi.

FYI, tanaman dan tumbuhan itu ada bedanya guys. Bagi kalian yang belum tahu, sederhananya tanaman itu adalah jenis organisme yang ditanam langsung oleh manusia. Sementara kalau tumbuhan itu adalah jenis organisme yang tumbuh sendiri di alam tanpa bantuan tangan manusia—itu kata dosenku.

Selain tanaman pegangan, di Kebun Raya Cibodas juga ada tanaman bernama Euchresta horsfieldii (Lesch.) atau biasa disebut dengan Ki Jowo. Tanaman ini termasuk ke dalam family Fabaceae. Tanaman Ki Jowo ini termasuk ke dalam keluarga polong-polongan. Ki Jowo memiliki biji yang berbentuk lonjong dan dipercaya dapat digunakan untuk mengobati batuk darah, aprodisiak, pelancar air seni, mengurangi keputihan, dan mengencangkan daerah kewanitaan serta  dapat digunakan untuk mempertahankan stamina.

Puas dengan mengamati tanaman obat-obatan, kini kami diajak melihat tanaman yang disimpan di dalam sebuah ruangan berkawat. Mungkin hal tersebut untuk mengurangi kejahilan wisatawan atau pengunjung yang ada disana. Kami dikenali dengan tanaman bernama Nepenthes atau sering kita kenal dengan tanaman kantong semar. Bentuknya unik dan warnanya begitu indah. Uniknya lagi, tanaman ini merupakan salah satu tanaman karnivora yang berada di kawasan tropis Dunia Lama (Indonesia, RRT bagian selatan, Indochina, Malaysia, Filipina, dll).

Nepenthes atau kantong semar



Pada ujung tanaman kantong semar terdapat sulur yang dapat termodifikasi  membentuk kantong, yaitu alat perangkap yang digunakan untuk memakan mangsanya (seperti  serangga, pacet, anak kodok) yang masuk ke dalam perangkapnya. Kantong ini juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang tidak tersedia pada habitat tumbuhnya.

Setelah berpisah sekian jam, akhirnya regu/tim kami (tim 1), tim Kak Andi bertemu dengan tim yang lainnya (tim 2). Kami bertemu di tempat dekat air mengalir yang begitu jernih. Disitu juga kebetulan kami dikenalkan oleh kedua pemandu dengan bunga yang terkenal besar, yaitu bunga bangkai, yang sering kita kenal dengan bunga Rafflesia. Bunga bangkai yang ada di Kebun Raya Cibodas ini adalah termasuk ke dalam jenis Rafflesia rochussenii. Bunga ini pernah mekar di Kebun Raya Cibodas terakhir pada 1 Juli 2011, sekitar 8 tahun yang lalu. 



Melihat pemandangan bunga yang begitu besar dan indah, aku pun tidak ingin melewatkan untuk mengabadikan momen itu. Aku berusaha untuk memotret pemandangan itu. Namun rasanya aku akan kesulitan mendapatkan gambar itu karena disana banyak sekali mahasiswa—yang aku tak tahu namanya satu-satu—yang berebutan untuk mendekati bunga ini yang disimpan di dalam ruangan berkawat, sehingga aku pun hanya mendapatkan hasil gambar yang seadanya saja. Meskipun aku hanya berhasil menangkap potret ujung dari bunga tersebut, aku tetap puas karena berhasil mengabadikan momen itu. Coba saja kalau timku tidak bertemu dengan tim 2 saat mengamati bunga bangkai terbesar itu, mungkin aku bisa memotretnya dengan posisi yang lebih dekat dan leluasa.

Salah satu bunga Rafflesia di Kebun Raya Cibodas


Setelah berjam-jam mengelilingi Kebun Raya Cibodas, hujan pun kembali turun membasahi tubuh kami. Kali ini hujan lebih besar daripada saat kami tiba di tempat ini. Karena materinya dirasa cukup serta mengingat durasi waktu, kami pun terpaksa mengakhiri menyusuri keanekaragaman hayati Kebun Raya Cibodas. Karena waktu sudah menunjukkan waktu ashar, kami pun bergegas menuju masjid yang ada disana dengan terburu-buru agar baju kami tidak terlalu basah terkena hujan. Air disana begituuu dingin. Ketika wudhu pun aku sangat gemetar dibuatnya. Namun karena kewajiban, aku dan teman-teman muslim yang lain pun tidak begitu mempedulikannya. Kami pun shalat ashar berjamaah disana dengan ditemani oleh hujan yang semakin deras—sebelum pulang ke kosan masing-masing.

Indonesia menyimpan berbagai kekayaan alam yang tak dimiliki oleh banyak negara di dunia. Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang begitu besar. Begitu banyak manfaat yang didapat dari keanekaragaman hayati ini, mulai dari sumber pangan, sandang, papan, hingga berperan besar dalam kesehatan. Maka dari itu, sebagai warga negara yang baik, kita mesti tetap konsisten menjaga alam Indonesia, menjaga keanekaragaman hayati Indonesia, janganlah sampai kita mengotorinya dan merusaknya dengan perbuatan yang tidak bertanggung jawab. Tetaplah rawat bumi pertiwi kita ini agar Indonesia bisa semakin menjadi contoh bagi dunia.


                                                                                                                         Erfransdo
                                                                                                   Sukabumi, 15 Juli 2019


#KeanekaragamanHayati2019
#IDB2019KKH


Bonus