Senin, 20 November 2017

Penting SNMPTN atau SBMPTN ?



Assalammualaikum sobat...

Sesuai dengan judulnya, sekarang kita (kita? Lo aja kali wkwk) akan membahas seberapa jauh pentingnya antara SNMPTN dengan SBMPTN jika dilihat dari berbagi sudut pandang (acieee) untuk menentukan PTN (Perguruan Tinggi Negeri) mana yang akan kita tuju. Mungkin saat ini siswa-siswi kelas 12 di seluruh Indonesia masih sibuk untuk menghadapi ujian-ujian di sekolah dan masih sedikit yang memikirkan tentang masa depan (baca: mau kuliah dimana?).

Oke, gak usah basa-basi lagi ya. Kita mulai dari yang namanya SNMPTN. Mungkin ada beberapa segelintir siswa yang sudah tahu apa itu SNMPTN, mungkin mereka sudah mempersiapkannya sejak jauh-jauh hari (diingetin sama kakak kelas atau siapapun itu). SNMPTN adalah Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Dahulu, ada dua tipe SNMPTN ini, yaitu SNMPTN Undangan dan SNMPTN Tulis. Namun, sekarang SNMPTN tulis sudah dirubah menjadi SBMPTN. Untuk kids zaman now, SNMPTN ini sendiri sudah menjadi satu tipe tersendiri, yaitu jalur undangan. Maksud dari jalur undangan disini adalah PTN yang bersangkutan menyeleksi para calon mahasiswanya (setahu saya) dengan mempertimbangkan nilai raport dari semester 1-5, prestasi siswa di sekolah, akreditasi/prestasi sekolah bersangkutan, dan konon juga jumlah alumni atau kualitas alumni yang menempuh perkuliahan di PTN bersangkutan. Untuk jalur undangan ini, prosesnya cukup ribet dan lain sebagainya. Tidak semua siswa bisa mengikuti jalur ini, karena hanya siswa-siswa terbaik di sekolahnyalah yang bisa mengikuti jalur ini. Bagi kita yang gak mau susah-susah ikut tes PTN, cara inilah (SNMPTN) yang bisa menjadi alternatif. Tapi, dari tahun ke tahun, jumlah siswa yang lolos melalui tahap SNMPTN ini selalu kurang dari 20%. Dan inilah gambaran penerimaan calon mahasiswa baru lewat jalur SNMPTN dari tahun ke tahun.

https://www.zenius.net/blog/13340/langkah-masuk-kuliah-perguruan-tinggi


Butuh ke-konsistensian nilai raport kita selama menempuh pembelajaran di SMA (dan juga prestasi jika ada). Perlu dipersiapkan sejak kelas 10 mula kalau kita ingin mendapat peluang lebih besar di SNMPTN (dan itupun belum tentu menjamin sih). Ada yang bilang kalau SNMPTN ini adalah jalur keberuntungan, karena siswa yang terkenal pintar dan oke pun belum tentu bisa lolos di tahap  ini. Sebaliknya, siswa yang biasa-biasa saja bisa tembus. Menurut kacamata saya pribadi, itu bukan hanya keberuntungan saja, melainkan harus ada strategi-strategi yang mumpuni untuk memaksimalkan peluang di SNMPTN. Bagi siswa pintar yang tidak beruntung di SNMPTN, mungkin strateginya kurang oke, mungkin dia terlalu berekspektasi tinggi saat mendaftarkan diri di website SNMPTN. Karena dia merasa paling jago, dia pun memilih jurusan yang ketat dan di PTN yang top pula. Misalnya saja dia memilih STEI ITB, padahal persaingan masuk ITB apalagi untuk STEI sangat ketat, passing gradenya terbilang di atas fakultas atau sekolah lain yang ada di ITB sendiri, dan lebih besar juga dibanding prodi-prodi di PTN lain. Sedangkan siswa yang biasa-biasa saja memilih untuk realistis dan tak muluk-muluk, sehingga dia bisa tembus di jurusan dan PTN keinginannya.

Bagi kebanyakan orang, mungkin SNMPTN adalah jenis yang selalu mem-PHP-kan seseorang yang berharap padanya, lebih-lebih dalem PHP-nya ketimbang di PHP-in sama gebetan wkwkwk. Sistem penilaian di SNMPTN sendiri masih sulit ditebak dan misterius. Hanya PTN yang bersangkutanlah yang tahu. So, buatlah strategi yang matang jika ingin berhasil di jalur undangan ini.

Nah yang kedua adalah SBMPTN alias Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Kalau SNMPTN tidak bisa semua siswa ikut mendaftar, berbeda dengan jalur yang satu ini, SBMPTN bisa diikuti oleh seluruh siswa-siswi SMA/SMK/MA atau lainnya di seluruh Indonesia. Bagi alumni pun masih bisa mengikuti jalur ini sampai dua tahun setelah lulus dari SMA atau sederajat. Jalur ini adalah jalur tulis untuk membuka kesempatan kita diterima di PTN apabila ketika di SNMPTN kita gagal, atau bagi yang tidak bisa mengikuti jalur SNMPTN. Ada dua tipe ujian di SBMPTN ini, pertama adalah jenis SAINTEK (Sains dan Teknologi) dan juga SOSHUM (Sosial dan Humaniora). Bagi kita yang ingin berkuliah di jursan keteknikan, dokter, atau arsitek bisa memilih tipe ujian Saintek. Sementara jika kita ingin mengambil jurusan hukum, akuntansi, atau bahasa bisa memilih tipe ujian Soshum.

Pada tipe ujian jenis Saintek, kita akan mengerjakan dua tipe ujian. Pertama adalah TKPA (Tes Kemampuan Potensi Akademik) dan TKD (Tes Kemampuan Dasar) Saintek. Untuk TKPA sendiri soalnya sama dengan yang ada di jenis ujian Soshum, hanya berbeda di bagian TKD-nya saja. TKPA terdiri dari 90 soal (TPA 45 soal, Matematika Dasar 15 soal, Bahasa Indonesia 15 soal, dan Bahasa Inggris 15 soal). TKD Saintek terdiri dari 60 soal (Matematika IPA 15 soal, Fisika 15 soal, Kimia 15 soal, dan Biologi 15 soal). Untuk TKD Soshum juga terdiri dari 60 soal (Ekonomi 15 soal, Sosiologi 15 soal, Geografi 15 soal, dan Sejarah 15 soal). Jadi masing-masing jenis ujian terdiri dari 150 soal. Pengerjaan soal TKPA dan TKD dibagi menjadi dua sesi. Untuk mengerjakan soal TKPA kita diberi waktu 105 menit. TKD Saintek 105 menit dan TKD Soshum 75 menit.

Sebenarnya ada satu tipe ujian lagi yaitu jenis Campuran (TKPA, TKD Saintek, dan TKD Soshum). Bagi kita yang memilih jenis ujian ini, kita akan mengerjakan seluruh soal baik itu dibidang Saintek-nya dan juga Soshum-nya (termasuk TKPA). Jika di total, kita akan mengerjakan sebanyak 210 soal. Tapi jika memilih salah satunya saja, kita akan mengerjakan sebanyak 150 soal saja (saja? Apa ga salah tuh?).

Sama halnya dengan SNMPTN, tingkat persaingan di SBMPTN pun sangat ketat dari tahun ke tahunnya. Tiap tahunnya siswa yang lolos melalui jalur tes tulis ini kurang dari 20% saja. Inilah gambaran penerimaan calon mahasiswa baru lewat jalur SBMPTN tahun ke tahun.

https://www.zenius.net/blog/16619/latihan-soal-sbmptn-2017


Berbeda dengan jalur undangan, di jalur tes tulis ini kita masih bisa memprediksi bagaimana peluang kita untuk lolos menuju PTN impian, karena hasil ini murni berkat kemampuan kita dalam mengerjakan berbagai tipe soal yang ada. Kita juga bisa lebih realistis lagi dalam memilih jurusan maupun PTN-nya.

Tingkat kesulitan tes-nya pun jelas jauh berbeda dibandingkan dengan soal-soal di sekolah maupun Ujian Nasional, ujian di SBMPTN soalnya lebih kompleks dan rumit. Di tes ini bukan lagi soal menghafal rumus, tetapi lebih kepada penguasaan konsep. Kita harus tahu bagaimana rumus itu datang dan bagaimana cara penggunaannya di berbagai tipe soal yang ada. Karena jika hanya menghafal rumus saja belum tentu bisa mengerjakan soal, apalagi yang dihadapi soal SBMPTN. Kita mesti cermat dalam membaca soal dan menghubungkannya dengan konsep yang sudah ada. Karena jika sudah menguasai konsep tertentu, kita akan mudah menghadapi berbagai tipe soal yang ada. Pastinya dengan penguasaan dan pemakaian yang benar. Jadi untuk bisa memanfaatkan peluang di jalur tulis ini, kita harus mampu berusaha semaksimal mungkin, belajar dengan sungguh-sungguh, dan tentu dengan disertai doa. Jika kita berusaha, insya Allah usaha tersebut tidak akan mengkhianati hasil yang akan kita peroleh.

So, kembali kepada pokok permasalahan : penting SNMPTN atau SBMPTN?. Yang pastinya itu kembali lagi kepada kalian untuk bagaimana memanfaatkan setiap peluang yang ada dengan strategi yang oke. Dan walaupun misalnya dikedua jalur tersebut belum berhasil, masih ada jalan lain yang lebih terbuka lebar. Kita masih bisa mengikuti jalur tes lain, yaitu Ujian Mandiri di PTN bersangkutan, sebut saja SIMAK UI, UTUL UGM, UM UNDIP, dll.

Orang yang pintar akan kalah dengan orang yang beruntung. Orang yang beruntung akan kalah dengan orang yang rajin dan konsisten akan mimpi dan tujuannya.

“If you want success, but you avoid the effort to achieve success by reason of fear of failure, then your fear is fear to be succesfull” (Prof. Schein)

Oke sekian dari saya, tulisan diatas merupakan pendapat/pengalaman saya pribadi. Apabila ada kesalahan kata atau informasi, saya mohon untuk mengoreksinya dan meluruskannya, terimakasih :D
 

Wassalammu'alaikum wr.wb