Minggu, 17 September 2017

Timnas U-18 Indonesia Raih Juara 3 Setelah Hancurkan Tuan Rumah



Lagi-lagi timnas Garuda Indonesia harus puas mendapatkan juara ke-3 dalam ajang Piala AFF U-18 yang diselenggarakan di Myanmar. PSSI menargetkan kepada para anak asuh Coach Indra Sjafri ini juara. Berbekal pengalaman saat membawa Timnas U-19 Indonesia juara AFF 2013 di Sidoardjo, Coach Indra Sjafrie cukup percaya diri membawa anak asuhnya berlaga di Piala AFF U-18 setelah berbagai uji coba dan turnamen yang membuahkan hasil positif.

Timnas Garuda Nusantara (julukannya)—karena pemainnya berasal dari berbagai daerah—memulai pertandingan perdana pada 6 September 2017 melawan tim tuan rumah Myanmar. Sempat tertinggal terlebih dahulu di babak pertama dengan skor 1-0, Indonesia mampu membalikkan keadaan menjadi 2-1 di penghujung pertandingan. Gol pertama bagi Indonesia terjadi ketika Rifad Marasabesy hendak mengumpan lambung menuju pertahanan Myanmar namun bola mengenai mistar gawang yang akhirnya terciptalah kemelut yang mampu dimanfaatkan oleh Egy Maulanan Vikry menjadi goal dengan sundulan mautnya. Di perpanjangan waktu babak kedua, akselerasi Egy tak mampu dihentikan pemain belakang Myanmar sehingga goal kedua untuk Indonesia pun tak bisa dibendung lagi.

Tanggal 8 September 2017, Indonesia melakoni laga kedua menghadapi Filipina. Saat itu timnas Indonesia mampu menggulung Filipina dengan skor 9 goal tanpa balas. Goal itu dicetak oleh Egy Maulana Vikry (2 goal), Feby Eka Putra (3 goal), M. Iqbal (2 goal), dan masing-masing sebiji goal dilesakkan oleh M. Rafli Mursalim dan Resky Fandi.

Tiga hari setelah pertandingan itu, timnas melakoni laga berat melawan tim unggulan Vietnam yang sebelumnya mampu melibas Brunei Darussalam dengan skor 8-1. Diluar dugaan Indonesia mampu mengendalikan permainan sehingga para pemain Vietnam hanya bisa menunggu serangan balik. Petaka di alami timnas Indonesia ketika penjaga gawang andalan Indonesia, M. Riyandi, harus ditanduk keluar dan digantikan oleh Aqil Savik karena terkena cedera. Tak lama berselang, gawang Indonesia akhirnya kebobolan melalui set piece tendangan sudut. Sebelum babak pertama berakhir, sundulan pemain Vietnam membuat Vietnam unggul dua goal atas Indonesia. Di babak keduaa, Coach Indra Sjafrie memainkan Witan Sulaeman yang masih berusia 16 tahun setelah dua pertandingan awal tidak diturunkan karena kondisi kesehatannya. Meskipun memberi perubahan dalam gaya bermain timnas Indonesia, lagi-lagi Indonesia harus kebobolan goal yang ketiga akibat sundulan pemain Vietnam memanfaatkan tendangan sudut. Alhasil, Indonesia pun harus menelan kekalahan pertamanya di turnamen ini.

Kalah 3-0 di pertandingan ketiga, Indonesia harus mampu mengalahkan Brunei Darussalam dengan definit 8 goal jika ingin langsung lolos ke babak semi final tanpa bergantung dengan pertandingan antara Myanmar melawan Vietnam. Tampil percaya diri, belum saja satu menit pertandingan di mulai, M. Rafli Mursalim mampu mencetak goal pembuka untuk Indonesia. Babak pertama Indonesia sudah unggul 6-0 atas Brunei Darussalam. Babak kedua, goal Witan Sulaeman dan Saghara Putra membawa Indonesia ungguli Brunei Darussalam 8 goal tanpa balas. Sesuai dengan target, Indonesia pun langsung lolos ke babak semi final sebagai juara group karena Myanmar mampu hentikan perjalanan Vietnam di Piala AFF ini dengan skor 2-1.

Di babak semi final, Indonesia bertemu dengan tim raksasa Asia Tenggara, Thailand. Laga yang tadinya akan disiarkan malam hari menjadi diubah di sore hari karena keinginan sang tuan rumah Myanmar. Tetapi meskipun begitu, timnas Indonesia tidak mempermasalahkannya. Di awal-awal babak pertama, Indonesia menerima tekanan dari Thailand, namun dari segi peluang Indonesia lebih banyak dalam menciptakan peluang ke gawang. Di seperempat pertandingan babak pertama, Witan Sulaeman hampir saja membuat Indonesia unggul jika tendangannya tidak melebar di sisi kanan penjaga gawang Thailand. Di akhir babak pertama, kerugian pun melanda timnas Indonesia, adalah Saddil Ramdani yang baru masuk menggantikan Feby Eka harus mendapatkan ganjaran kartu merah dari wasit karena sikutannya kepada pemain Thailand, namun keputusan itu cukup tidak adil bagi timnas Indonesia.

Di babak kedua, meskipun timnas Indonesia kalah jumlah pemain, tetapi Indonesia mampu tampil menyerang dan merepotkan gawang dari Thaialnd. Namun penampilan superior ditampilkan oleh penjaga gawang Thailand, dia mampu menggagalkan peluang-peluang Indonesia. Andaikan saja penjaga gawangnya bukan dia, mungkin Indonesia sudah unggul besar atas Thailand. Terlihat seperti Thailand yang bermain dengan 10 orang. Hingga pertandingan usai, tidak ada goal yang tercipta, dan pertandingan pun harus dilanjutkan dengan adu penalty. Di adu penalty ini, Indonesia harus mengakui keunggulan Thailand 3-2 setelah 3 penendang dari timnas Indonesia tidak mampu memasukkan bola yang dikawal oleh kiper superior itu. Indonesia pun harus menerima kenyataan ini, padahal Indonesia sudah layak menang dan melaju ke final.

Tanggal 17 September yaitu tepatnya hari ini, Indonesia menghadapi Myanmar untuk memperbutkan juara ke-3 setelah Myanmar juga kalah atas Malaysia melalui adu penalty. Timnas Indonesia sudah move on atas dua hari yang lalu dan bertekad mengalahkan Myanmar untuk yang kedua kalinya setelah pertandingan di babak penyisihan. Terbukti,di babak pertama Indonesia sudah unggul 3-0. Permainan cantik ditampilkan oleh para pemain timnas Indonesia, seperti yang dikatakan komentator bola yang memandu pertandingan bahwa timnas Indonesia memainkan “sexy football” yang membuat para pemain Myanmar frustrasi. Di babak kedua timnas mampu melesakkan 4 goal tambahan. Myanmar hanya mampu membalas 1 goal. Skor akhir 7-1 untuk kemenangan timnas Garuda Nusantara. Skor yang sangat telak dan membuat Myanmar tentunya malu karena bermain di hadapan pendukung sendiri. Indonesia pun layak atas peringkat ketiga.

Terlepas dari berhasilnya timnas Indonesia meraih posisi ketiga, sebenarnya timnas kita sudah sangat layak berada di final dan menjuarai turnamen sepakbola se-Asia Tenggara ini. Namun, sepertinya dewi fortuna belum memihak kepada Indonesia. Meskipun Indonesia juara ketiga, tetapi rasanya Indonesia seperti sudah menjadi juara pertama. FYI, timnas Indonesia menjadi tim yang paling subur di turnamen ini dengan menciptakan 26 goal dan hanya kebobolan 5 goal. Dan pemain Indonesia Egy si “kelok sembilan” mampu menjadi top skorer dengan 8 goalnya, dua goal tambahan sebagai penegas ia lesakkan di pertandingan terakhir ini mengguli striker Myanmar yang hanya terpaut satu goal saja dari Egy Maulanan Vikry.

Kita doakan semoga timnas Indonesia baik dari yang junior sampai senior mampu tampil lebih baik dan menjadi juara di turnamen berikutnya. Aamiin ya Allah :D

Inilah para pemain Timnas Garuda Nusantara di Piala AFF U-18 Myanmar :

Kiper
1. Muhammad Riyandi, Barito Putera
2. Gianluca P. Rossy, Jawa Tengah
3. Aqil Savik, Jawa Barat
Belakang
4. M. Rifad Marasabessy, Madura United
5. Dedi Tri Maulana, Sulawesi Tengah
6. Rachmat Irianto, Persebaya
7. Julyano Pratama Nono, Ragunan
8. Kadek Raditya, Bali
9. Firza Andika, Sumatera Utara
10. Irsan Lestaluhu, Maluku
11. Samuel Christianson, Persija U-19
12. Nurhidayat Haris, PSM
Tengah
13. Syahrian Abimanyu, Persija U-19
14. Witan Sulaeman, Ragunan
15. Resky Fandi Witriawan, Sulawesi Barat
16. Asnawi Mangkualam Bahar, PSM
17. Muhammad Iqbal, Sumatera Barat
18. Feby Eka Putra, Jawa Timur
19. Saddil Ramdani, Persela
20. Egy Maulana Vikri, Ragunan
21. M Lutfi Kamal, DKI Jakarta
Depan
22. Hanis Saghara Putra, Jawa Timur
23. M. Rafli Mursalim, DKI Jakarta


Selasa, 29 Agustus 2017

Garuda Muda Raih Perunggu di SEA Games ke-29 Kuala Lumpur



Tepat hari ini : Selasa, 29 Agustus 2017 timnas sepakbola Indonesia U-22 berhasil meraih medali perunggu usai menaklukan perlawanan dari timnas Myanmar dengan skor 3-1. Sempat tertinggal di babak pertama, skuad garuda muda tampil heroik di babak kedua dengan di masukkannya Ezra Walian. Nampaknya para pemain menerapkan instruksi dari Luis Milla Aspas, pelatih Indonesia.

Sebenarnya hasil ini bukanlah hasil yang ditargetkan timnas U-22 Indonesia di SEA Games 2017, sebelumnya tim Garuda Muda sudah menargetkan medali emas setelah gagal di Kualifikasi Piala Asia 2018. Tapi apapun itu hasilnya, timnas Indonesia sudah memberikan yang terbaik, hanya saja timnas kita kurang beruntung, karena dalam segi dan skill permainan sudah di atas lawan-lawannya.

Sebelum meraih medali perunggu pada hari ini, inilah perjuangan timnas Indonesia mulai dari ujian di group berat serta melawan tuan rumah di semi final.

15 Agustus 2017
Dua hari sebelum memperingati kemerdekaan Indonesia, timnas Garuda melakoni laga pertamanya di Group B melawan Thailand, lawan yang cukup berat. Pertandingan terakhir kedua tim berlangsung dengan skor kaca mata satu bulan sebelumnya ketika berlaga di Kualifikasi Piala Asia 2018. Melawan Thailand, timnas tampil luar biasa di menit-menit awal dengan menggempur pertahanan Thailand, seakan timnas tidak sedang bermain dengan tim kuat Thailand. Namun keasyikan menyerang, gawang Kartika Ajie bobol di pertengahan babak pertama. Setelah itu, timnas kembali menggempur pertahanan Thailand.

Timnas Garuda berhasil menyamakan kedudukan pada babak kedua melalui eksekusi penalty Septian David Maulana yang sebelumnya Osvaldo Haay dijatuhkan oleh pemain bertahan Thailand di dalam kotak penalty. Hingga peluit akhir dibunyikan, Indonesia berhasil menahan imbang Thailand.

17Agustus 2017
Tepat di hari kemerdekaan Indonesia, timnas menghadapi Filipina pada pukul 19.45. tampil dengan percaya diri, Septian David Maulana sudah membuka keunggulan bagi timnas Indonesia di menit-menit awal babak pertama. Umpan dari Putu Gede berhasil dikonversi gol oleh Septian dengan goal indahnya. Di penghujung babak pertama, Hargianto berhasil menggandakan keunggulan Indonesia meneruskan umpan dari Septian David Maulana.

Di babak kedua, Indonesia semakin menggempur pertahanan Filipina. Alhasil, Saddil Ramdani berhasil menambah keunggulan Indonesia menjadi tiga gol. Pada malam itu Indonesia menang 3 goal tanpa balas. Di pertandingan ini, ada hal yang menarik. Pasalnya, pencetak goal Saddil Ramdani bernomor punggung 17, sementara Hargianto bernomor punggung 8 yang mencetak gol pada menit ke 45’ dan laga ini sendiri dimulai pada pukul 19.45. Sama persis dengan hari kemerdekaan Indonesia : 17-8-1945

20 Agustus 2017
Di pertandingan ke-3, Indonesia melawan Timor Leste yang dulunya merupakan bagian dari wilayah Indonesia. Tanpa di duga, Timor Leste bermain dengan agresif yang membuat barisan pertahanan Indonesia cukup panik. Namun tandukan Marinus Wanewar yang meneruskan umpan Septian David Maulanan berhasil mengubah skor menjadi 1-0 untuk keunggulan Indonesia, sehingga membuat timnas Garuda menjadi lebih percaya diri.

Di menit-menit akhir pertandingan, ada sebuah insiden yang sangat merugikan timnas Indonesia, pasalnya Evan Dimas yang dilanggar oleh pemain Timor Leste malah diberikan kartu kuning oleh wasit sehingga Evan Dimas sudah mengantongi dua kartu kuning. Dengan begitu, Evan Dimas tidak bisa bermain ketika timnas Indonesia melawan Vietnam yang difavoritkan menjadi juara. Tentu saja ini adalah hal yang sangat merugikan, namun Evan Dimas mengatakan bahwa ada hikmah dibalik semua ini.

22 Agustus 2017
Pada Selasa malam, Indonesia harus melawan Vietnam tanpa Evan Dimas. Perannya pun digantikan oleh Hani Sjahbandi dan Hargianto. Sejak wasit meniupkan peluitnya di babak pertama, timnas Vietnam selalu mengancam pertahanan Indonesia, namun barisan pertahanan Indonesia mampu meredam serangan dari para pemain Vietnam. Apalagi sosok kiper Satria Tama beberapa kali menyelamatkan gawang Indonesia dari kebobolan. Di pertengahan babak pertama, Septian David Maulanan hampir saja membuat goal untuk Indonesia, namun sepakannya masih bisa ditahan oleh kiper lawan. Babak pertama pun berakhir dengan skor kaca mata.

Di babak kedua, Vietnam semakin mendominasi permaianan, hingga pada 20 menit pertama babak kedua, Hanif Sjahbandi harus diusir oleh wasit setelah menerima kartu kuning kedua setelah melanggar pemain tengah Vietnam. Timnas Indonesia pun semakin berat menjalani pertandingan dengan 10 orang pemain, sementara Vietnam terus menggempur Indonesia. Beberapa menit kemudian pahlawan dibawah mistar gawang Indonesia Satria Tama harus ditanduk keluar karena cedera, terlihat Satria Tama menangis karena tidak bisa meneruskan pertandingan. Satria Tama pun digantikan oleh Kartika Ajie yang sebernarnya belum fit untuk bermain, namun nampaknya Kartika Ajie tidak mempedulikannya. Sepanjang pertandingan, Vietnam selalu menyerang pertahanan Indonesia, namun barisan pertahanan timnas Garuda tampil sangat baik, ini tak lepas dari rotasi yang dilakukan oleh Coach Luis Milla. Jelang akhir pertandingan, gawang Indonesia hampir saja bobol oleh penyerang Vietnam, namun Kartika Ajie mampu menepis bola sehingga bola mengenai mistar gawang dan keluar area permainan. Hingga babak kedua selesai, Indonesia berhasil menahan imbang Vietnam.

24 Agustus 2017
Laga kali ini merupakan laga hidup mati Indonesia jika ingin melangkah ke semi final. Sebab langkah Indonesia ditentukan pula oleh pertandingan antara Thailand dengan Vietnam, apabila Thailand bermain dengan Vietnam, Indonesia harus mencetak tiga gol ke gawang Kamboja untuk melangkah ke semi final, atau jika Thailand dan Vietnam saling ‘bunuh’, Indonesia hanya butuh menang melawan Kamboja dengan skor berapapun. Di babak pertama, timnas Indonesia yang sudah kembali dipimpin oleh Evan Dimas di lapangan tengah sulit sekali menciptakan goal pertama. Saat itu Kamboja bermain sangat baik, mengingat ini adalah pertandingan terakhir bagi Kamboja di fase group karena mereka sudah dipastikan tidak akan lolos ke semi final, dan mereka juga belum menciptakan satu poin pun di fase group sehingga mereka bermain sangat terbuka. Di ujung babak pertama, mala petaka datang pada Kamboja, sebab pemainnya diusir wasit setelah mendapatkan kartu kuning kedua setelah melanggar pemain Indonesia. Skor 0-0 pun menutup babak pertama.

Di babak kedua Coach Luis Milla memasukkan Ezra Walian dan Febri Haryadi menggantikan Marinus Wanewar dan Osvaldo Haay. Pergantian ini sangat brillian sekali, sebab belum lama masuk menggantikan Marinus Wanewar, Ezra langsung membuka goal untuk Indonesia akibat kemelut di dalam kotak penalty Kamboja, dan kemelut itu diawali dari umpan silang Febri Haryadi yang juga baru masuk di babak kedua. Goal itu membuat para pemain semakin semangat, mengingat di pertandingan lain, tanpa diduga Vietnam sudah kebobolan tiga gol tanpa balas oleh Thailand, dengan hasil ini Thailand akan lolos ke semi final sebagai juara group, sementara jika Indonesia menang melawan Kamboja, Indonesia akan lolos ke semi final sebagai runner up. Di pertengahan babak kedua, Febria ‘Bow’ Haryadi mampu menggandakan keunggulan Indonesia dengan goal jarak jauhnya yang sangat fantastis, goal kelas dunia yang juga memupus harapan Kamboja untuk mengalahkan Indonesia. Hingga babak kedua selesai, Indonesia unggul 2-0 atas Kamboja dan Thailand unggul 3-0 atas Vietnam. Dengan hasil ini, Indonesia akan menantang juara Group A di semi final, yaitu lawannya adalah tuan rumah Malayasia. Tentu saja itu adalah pertandingan yang sangat ditunggu-tunggu oleh kedua tim.

26 Agustus 2017
Pada Sabtu malam, Indonesia menghadapi tuan rumah Malaysia di semi final. Thailand sendiri sudah memastikan lolos ke final setelah menaklukan Myanmar 1-0 di menit-menit akhir pertandingan. Di semi final ini Indonesia tanpa tiga pilarnya yang tidak bisa main akibat akumulasi kartu kuning, mereka adalah sang kapten Hansamu Yama, Hargianto, dan penyerang Marinus Wanewar. Supporter Indonesia yang hadir di Stadion Shah Alam berjumlah 10.000 karena sebanyak itulah jatah untuk supporter Indonesia, sementara supporter Malaysia sekitar 5 kali lipatnya dari supporter Indonesia. Namun meskipun begitu, timnas kita mampu percaya diri dan bermain sangat enjoy. Sepertinya mereka mendengar instruksi Coach Luis Milla yang meminta anak asuhnya untuk menikmati laga semi final. Di babak pertama, Indonesia mampu menguasai jalannya pertandingan, terlihat pemain Malaysia begitu tidak berkembang dan selalu panik jika Indonesia melakukan serangan. Peluang-peluang emas dari Ezra Walian masih belum mampu dikonversi menjadi goal. Hingga peluit babak pertama dibunyikan, skor masih imbang 0-0.

Di babak kedua, timnas Garuda semakin percaya diri. Kedua tim bermain dengan cukup sportif mengingat belum ada kartu kuning yang dikeluarkan oleh wasit. Di pertengahan babak kedua, Septian David Maulana harus ditanduk keluar karena menderita cedera. Tentu ini sangat merugikan Indonesia. Beberapa menit kemudian, Ezra pun digantikan oleh Saddil Ramdani, sehingga tak ada striker murni di kubu Indonesia. Yabes Roni pun menjadi penyerang dadakan di laga itu. Menit ke-87’ awal petaka bagi Indonesia, pemain berbahaya Malaysia Thanabalan mampu mencuri goal berkat tandukannya menerima umpan dari sepak pojok rekannya. Sementara pertandingan akan segera usai tiga menit lagi waktu normal. Namun official pertandingan memberikan waktu tambahan 5 menit. Dan itu adalah waktu yang cukup untuk Indonesia menyamakan kedudukan, dan tentu itu merupakan waktu yang panjang bagi Malaysia. Di tambahan waktu 90+3’, Osvaldo Haay terjatuh dikotak penalty Malaysia, namun wasit tidak meniup peluitnya tanda pelanggaran. Alhasil goal kick untuk Malaysia, tak lama berselang peluit akhir pertandingan pun dibunyikan. Indonesia harus menerima kekalahan ini dengan lapang dada meskipun kecewa pasti akan dirasakan. Setelah peluit itu, para pemain Indonesia menangis tersedu karena kecewa tidak bisa melangkah ke final. Perlu diketahui, istirahat Indonesia sangat sedikit dibanding dengan Malaysia, ditambah Indonesia harus melawan 5 tim sebelum melawan Malaysia, sementara Malaysia sendiri hanya melawan 4 tim.

29 Agustus 2017
Indonesia kembali berlaga untuk memperebutkan medali perunggu melawan Myanmar. Sama dengan Indonesia, Myanmar pun kecolongan di menit-menit akhir pertandingan semi final ketika melawan Thailand. Timnas Garuda harus melupakan kekalahan atas Malaysia 3 hari lalu, dan harus tampil semangat demi bangsa Indonesia. Di babak pertama, pertahanan Indonesia sering di ‘eksploitasi’ oleh Myanmar, beberapa kali bola memantul ke mistar gawang Indonesia. Namun penampilan Satria Tama sangat baik sekali. Menit ke-15, gawang Satria Tama bobol oleh pemain Myanmar. Setelah goal itu Indonesia tampil menyerang dan membuat pertahanan Myanmar panik, namun gawang Myanmar masih aman dari kebobolan. Di pertengahan babak pertama Andy Setyo harus ditanduk keluar lapangan karena cedera dan harus digantikan oleh Rezaldi Hehanusa yang sebenarnya masih belum fit. Hingga babak pertama berakhir, skor 1-0 untuk keunggulan Myanmar pun bertahan.

Di babak kedua, Coach Luis Milla memasukkan Ezra Walian untuk menggantikan Marinus Wanewar. Pergantian ini sangat ampuh sekali, karena Ezra sering membuat pertahanan Myanmar kelimpungan. Hasilnya pada menit ke-57’ Evan Dimas Darmono berhasil menyamakan kedudukan dengan tendangannya yang terkena sedikit blok pemain Myanmar sehingga berubah arah dan bola pun masuk ke gawang Myanmar. Dua menit berselang, tepatnya menit ke-59’ Septian David Maulanan membuat Indonesia membalikan keadaan menjadi 2-1 lewat goal cantiknya. Keunggulan Indonesia bertambah menjadi 3-1 setelah Rezaldi Hehanusa berhasil mencetak goal spektakuler dari luar kotak penalty setelah water break. Hingga wasit meniup peluit tanda akhir pertandingan, Indonesia pun berhasil mengalahkan Myanmar dengan skor 3-1 dan berhak atas medali perunggu untuk dibawa ke Indonesia.

Saya pribadi merasa sangat bangga dengan hasil ini meskipun timnas Garuda tidak bisa membawa pulang emas. Permainan Indonesia sudah sangat baik sekali dari hari ke hari, tim Coach Luis Milla mampu menaikkan graik penampilan Indonesia, timnas kita hanya kurang beruntung saja. Semua pemain sudah memiliki skill yang sangat baik, semua lini pun sudah sangat baik berkat rotasi yang dilakukan oleh Luis Milla Aspas mantan pemain Real Madrid ini. Saya berharap semoga setelah turnamen ini, timnas Garuda baik yang muda sampai senior bisa berlaga dengan sangat baik dan mengharumkan bangsa Indonesia. Setelah ini ada turnamen Piala AFF U-19 dan juga Asian Games 2018. Semoga kita bisa juara. Aamiin. SEA Games 2019 kita buktikan!

Inilah para pahlawan pemain timnas Indonesia U-22 yang berlaga di SEA Games ke-29 Kuala Lumpur, Malaysia :

Penjaga gawang : Kartika Ajie, Satria Tama, Dicky Indriyana
Pemain belakang : Hansamu Yama Pranata (C), Andy Setyo Nugroho, Putu Gede Juni Antara, Gavin Kwan Adsit, Rezaldi Hehanusa, Ricky Fajrin, Ryuji Utomo
Pemain tengah/Gelandang : Evan Dimas Darmono, Hargianto, Septian David Maulana, Hanif Sjahbandi, Asnawi Mangkualam
Pemain sayap : Febri Haryadi, Saddil Ramdani, Osvaldo Haay, Yabes Roni
Penyerang : Marinus Wanewar Marianto, Ezra Walian



MENANG KAMI SAMBUT, KALAH KAMI JEMPUT!!!
BRAVO TIMNAS INDONESIA!!! KITA JUARA!!!

Sabtu, 01 Juli 2017

Setelah Lebaran (Masih Seputar Kuliah) : Ambil Gapyear



Ditolak oleh PT (Perguruan Tinggi Negeri) memang lebih menyakitkan daripada ditolak oleh wanita pujaan. Jika ditolak wanita pujaan, kita masih bisa mencari wanita yang lebih cocok bagi kita. Tetapi berbeda ceritanya kalau kita di tolak oleh PTN impian dan jurusan impian, terkadang kita tidak bisa beralih kepada yang lain, karena hati kita sudah tertambat untuk PTN dan jurusan tersebut. Meskipun ada PTN lain, tetapi kita tidak bisa menerima sepenuhnya, apalagi tidak ada jurusan yang kita inginkan di PTN lain tersebut. Kalaupun kita diterima di PTS (Perguruan Tinggi Swasta), tetapi jurusannya bukan jurusan yang kita inginkan, percuma juga. Kecuali jika kita diterima di PTS dengan jurusan yang kita inginkan, apa salahnya untuk ditempu. Tapi jika kuliah hanya sekedar kuliah untuk menghilangkan gengsi, percuma saja. Mending tidak usah kuliah jika hanya mengejar gengsi semata. Lebih baik bekerja ataupun les apalah itu untuk mengisi kekosongan selama tidak kuliah untuk mempersiapkan tes masuk PTN lagi di tahun depan.

Seperti di singgung di postingan saya sebelumya, saya adalah lulusan tahun ini (th 2017). Dan saya sudah beberapa kali ditolak oleh PTN. Dan itu semua membuat saya down, meskipun tidak membuat saya stress tujuh turunan. Saya masih mempunyai akal sehat dan masih mempunyai semangat yang masih terjaga sampai saat ini. Dan benar seperti perkataan seseorang, bahwa mimpi bisa merubah hidup kita ke arah yang lebih maju. Saya sendiri yang merasakannya, mimpi membuat saya bisa lebih semangat menjalani hidup meski kegagalan sering menerpa saya. Saya percaya bahwa kekuatan mimpi itu ada. Dan juga saya percaya bahwa kegagalan adalah awal dari kesuksesan seseorang. Saya juga pernah membaca di sebuah artikel, bahwa kebanyakan orang yang gagal adalah mereka memutuskan untuk menyerah ketika sedang dekat-dekatnya dengan titik kesuksesan. Jadi jangan anggap kegagalan itu sebagai sebuah beban, tetapi jadikan sebuah kegagalan sebagai sebuah motivasi untuk menjadi lebih baik lagi.

Kembali kepada persoalan, saat ini status saya adalah sebagai pengangguran. Ya iyalah, toh saya sudah lulus dari SMA saya, dan juga belum bekerja. Dan teman-teman saya yang sudah diterima pun statusnya masih menjadi pengangguran sebelum di sahkan oleh kampusnya masing-masing. Atau jika boleh dibilang, sebenarnya saya bukan ­­seorang yang pengangguran-pengaggura amat, karena saya menyebut profesi saya sebagai seorang freelance hehehe :D. Satu minggu yang lalu, Hari Raya Idul Fitri pun tiba, semua keluarga berkumpul di suatu tempa/kampung halaman. Disitu banyak sekali perbincangan-perbincangan yang muncul. Dan yang saya takutkan dari perbincangan itu adalah mereka akan menyaiku tentang pendidikanku. Dan benar saja, yang aku takutkan memang terjadi. Mulai dari paman, bibi, kakek, nenek, sepupu, saudara jauh atau apalah itu mulai bertanya kepadaku tentang kelanjutan pendidikanku. Jika aku (misalnya) sudah diterima di salah satu PTN impian dan jurusan impian, aku tidak akan ragu untuk menjawabnya, malahan aku akan sangat menunggu pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi karena aku belum terikat dengan kampus manapun, rasanya sangat sulit sekali untuk menjawabnya. Kalaupun di jawab, aku menjawabnya dengan muka yang agak sedikit tertekuk, tapi aku sempatkan untuk memberi senyuman. Ya, aku belum kuliah, dan akan kembali bertempur tahun depan. Dan alhamdulillah, keluargaku tidak ada yang mengejekku sama sekali, malahan mereka menyemangatiku dan mendukungku untuk sukses. Mereka bilang masih banyak waktu untuk membuktikannya, masih banyak jalan, dan percaya pada diri sendiri jangan terpengaruh oleh omongan orang yang mencibir.

Sebelum pengumuman SBMPTN yang lalu, aku sudah berniat untuk mengambil gapyear bila tahun ini belum rezekiku di SBMPTN. Aku sendiri tidak berniat untuk mengikuti Ujian Mandiri karena beberapa hal. Aku sudah mantapkan untuk mengikuti tes SBMPTN 2018 tahun depan, meski satu tahun bukanlah waktu yang begitu singkat, apalagi jika tidak ada kegiatan sama sekali. Mungkin dari kalian masih belum tahu apa itu istilah gapyear. Menurut berbagai sumber yang telah saya baca, gapyear adalah kegiatan menunda pembelajaran atau aktivitas seperti yang biasa dilakukan seseorang selama kurang lebih satu tahun pada umumnya. Atau jika lebih disingkatkan lagi, yaitu bagi lulusan SMA yang memutuskan untuk menunda kuliahnya selama satu tahun. Istilah ini sering dipakai oleh lulusan SMA di Eropa sana. Bahkan anak dari Barrack Obama pun mengambil gapyear setelah lulus dari SMA­-nya.

Jika mengambil gapyear, beban sudah pasti ada. Mulai dari kurang percaya diri, tidak enak kepada kepada orangtua, dan juga hal-hal lain seperti pertanyaan “Mau ngapain aja lo selama setahun?”, “Mau kerja? Emangnya lo punya keahlian apa?”, “Mau diem aja dirumah?”, “Dirumah ngapain aja lo?”, “Yakin mau belajar lagi selama setahun?”, dan banyak lagi. Awalnya saya merasa sedikit agak terganggu ketika banyak teman-teman yang bertanya kuliah dimana dan saya langsung menjawabnya mau lanjut tahun depan. Ketika ditanya balik, dia udah kuliah. Malu sih (kalo malu wajar), apalagi (bukannya sombong) prestasi saya di sekolah cukup baik, selalu ada di peringkat 3 besar atau lima besar di kelas. Masa anak yang di kelasnya masuk 5 besar kalah sama yang gak dapet 10 besar sih? Kan gengsi. Itu sih menurut anggapan mereka, tapi saya tidak gengsi sama sekali, malahan saya lebih semangat untuk mengambil gapyear. Inget, gapyear itu bukan hanya menganggur selama setahun menunggu kuliah tahun depan, tetapi banyak sekali kegiatan yang bisa diisi selama satu tahun itu untuk mengembangkan jati diri sebenarnya. Untuk lebih jelasnya, saya akan mengungkapkan beberapa kelebihan jika mengambil gapyear dari para alumni yang sudah melakukan gapyear (dari berbagai sumber).

Kelebihan mengambil gapyear :

1.      Mempunyai banyak waktu untuk menentukan tujuan
Yang pertama kelebihan dari ambil gapyear ini adalah kamu bisa menentukan apa sih tujuan saya ke depannya. Kamu bisa mempunyai banyak waktu untuk berpikir sambil travelling ataupun menyendiri di kamar tanpa ada gangguan orang lain. Kamu bisa menentukan jurusan apa yang seharusnya di ambil tahun depan dan begitu pula dengan kampusnya yang cocok.

2.      Bisa bekerja part time
Yang kedua kamu bisa mengisi kekosongan hari-hari kamu dengan bekerja atau magang di suatu tempat, mungkin kamu bisa bekerja kecil-kecilan, membantu orangtua, atau menulis/ngeblog yang bisa menghasilkan pundi-pundi keuntungan untuk menambah biaya kuliah di tahun depan. Sambil bekerja, kamu juga bisa sambil belajar untuk memperisapkan tes SBMPTN atau ujian lainnya dari jauh-jauh hari.

3.      Mengenal orang baru dan lingkungan baru
Yang ketiga masih berkaitan dengan poin yang kedua. Ketika kamu bekerja di suatu tempat yang baru, otomatis kamu akan bertemu dengan teman-teman baru yang siapa tahu bisa menjadi sumber inspirasi untuk tujuan kamu ke depannya. Dan dengan itu semua, kamu bisa memperoleh pengalaman baru yang tidak di dapat oleh teman-temanmu yang sedang berkuliah.

4.      Bisa lebih menyiapkan diri
Dengan waktu satu tahun, kamu bisa lebih menyiapkan diri untuk menghadapi masa kuliah. Kamu pun bisa beristirahat setelah 12 tahun lamanya menempuh pendidikan. Sehingga otakmu pun akan lebih fresh. Kamu juga bisa lebih siap menerima semua kenyataan dan juga lebih siap untuk mempersiapkan segala-galanya yang akan kamu tempuh beberapa tahun mendatang. Kamu pun bisa lebih siap untuk belajar mempersiapkan beberapa tes ujian masuk, baik dengan cara bimbel, belajar sendiri dengan mengulang materi pembelajaran, membeli buku panduan, kursus bahasa asing, dan lain sebagainya.

Nah, mungkin itu beberapa kelebihan ketika kita mengambil gapyear atau menunda kuliah setahun atau lebih. Mungkin kita akan mendapatkan keuntungan yang lebih banyak lagi ketika merasakannya sendiri nanti. Saya pun membaca di berbagai artikel, banyak sekali testimoni-testimoni alumni yang diterima di SBMPTN atau ujian-ujian lainnya seperti USM PKN STAN, SIMAK UI, UTUL UGM, SMUP UNPAD setelah sebelumnya mereka mengambil gapyear alias menunda satu tahun karena berbagai hal, baik yang ditolak tahun sebelumnya, diterima tapi tidak sesuai dengan jurusan yang diinginkan, dan lain sebagainya.

Bagi sebagian orang mengambil gapyear mungkin bukan pilihan yang tepat karena berbagai alasan, tetapi jika dilihat dari sudut berbeda, mengambil gapyear justru memberikan banyak keuntungan bagi kita dalam beberapa hal, asalkan kita bisa memanfaatkan waktu satu tahun atau lebih dengan baik dan juga kegiatan yang bisa melecutkan semangat juang kita. Gapyear ataupun tidak, itu semua tergantung keinginan hati kita, toh diri kita sendiri yang menjalankannya, bukanlah orang lain. Yang saya bagikan disini, saya hanya ingin sedikit bercerita atau curhat lah untuk sekedar memberikan motivasi kepada kalian semua yang saat ini masih merasa bimbang.

Jadi intinya, setelah lebaran ini banyak sekali motivasi untuk bagaimana kita akan melangkahkan kaki demi meraih semua mimpi-mimpi kita, apa yang harus kita lakukan, dan bagaimana kita bisa mewujudkannya. Jangan jadikan beban jika ada orang yang bertanya kuliah dimana, cukup jawab saja : “secepatnya saya akan menyusulmu”. Jadikan pertanyaan-pertanyaan yang kurang enak di hati sebagai pelecut semangat untuk terus berjuang demi apa yang kita impikan. Bersabarlah, semua yang kita inginkan harus dibarengi dengan perjuangan. Dan percayalah, bahwa usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil.

SALAM SUKSES DARI SAYA! :D :)