Sabtu, 01 Juli 2017

Setelah Lebaran (Masih Seputar Kuliah) : Ambil Gapyear



Ditolak oleh PT (Perguruan Tinggi Negeri) memang lebih menyakitkan daripada ditolak oleh wanita pujaan. Jika ditolak wanita pujaan, kita masih bisa mencari wanita yang lebih cocok bagi kita. Tetapi berbeda ceritanya kalau kita di tolak oleh PTN impian dan jurusan impian, terkadang kita tidak bisa beralih kepada yang lain, karena hati kita sudah tertambat untuk PTN dan jurusan tersebut. Meskipun ada PTN lain, tetapi kita tidak bisa menerima sepenuhnya, apalagi tidak ada jurusan yang kita inginkan di PTN lain tersebut. Kalaupun kita diterima di PTS (Perguruan Tinggi Swasta), tetapi jurusannya bukan jurusan yang kita inginkan, percuma juga. Kecuali jika kita diterima di PTS dengan jurusan yang kita inginkan, apa salahnya untuk ditempu. Tapi jika kuliah hanya sekedar kuliah untuk menghilangkan gengsi, percuma saja. Mending tidak usah kuliah jika hanya mengejar gengsi semata. Lebih baik bekerja ataupun les apalah itu untuk mengisi kekosongan selama tidak kuliah untuk mempersiapkan tes masuk PTN lagi di tahun depan.

Seperti di singgung di postingan saya sebelumya, saya adalah lulusan tahun ini (th 2017). Dan saya sudah beberapa kali ditolak oleh PTN. Dan itu semua membuat saya down, meskipun tidak membuat saya stress tujuh turunan. Saya masih mempunyai akal sehat dan masih mempunyai semangat yang masih terjaga sampai saat ini. Dan benar seperti perkataan seseorang, bahwa mimpi bisa merubah hidup kita ke arah yang lebih maju. Saya sendiri yang merasakannya, mimpi membuat saya bisa lebih semangat menjalani hidup meski kegagalan sering menerpa saya. Saya percaya bahwa kekuatan mimpi itu ada. Dan juga saya percaya bahwa kegagalan adalah awal dari kesuksesan seseorang. Saya juga pernah membaca di sebuah artikel, bahwa kebanyakan orang yang gagal adalah mereka memutuskan untuk menyerah ketika sedang dekat-dekatnya dengan titik kesuksesan. Jadi jangan anggap kegagalan itu sebagai sebuah beban, tetapi jadikan sebuah kegagalan sebagai sebuah motivasi untuk menjadi lebih baik lagi.

Kembali kepada persoalan, saat ini status saya adalah sebagai pengangguran. Ya iyalah, toh saya sudah lulus dari SMA saya, dan juga belum bekerja. Dan teman-teman saya yang sudah diterima pun statusnya masih menjadi pengangguran sebelum di sahkan oleh kampusnya masing-masing. Atau jika boleh dibilang, sebenarnya saya bukan ­­seorang yang pengangguran-pengaggura amat, karena saya menyebut profesi saya sebagai seorang freelance hehehe :D. Satu minggu yang lalu, Hari Raya Idul Fitri pun tiba, semua keluarga berkumpul di suatu tempa/kampung halaman. Disitu banyak sekali perbincangan-perbincangan yang muncul. Dan yang saya takutkan dari perbincangan itu adalah mereka akan menyaiku tentang pendidikanku. Dan benar saja, yang aku takutkan memang terjadi. Mulai dari paman, bibi, kakek, nenek, sepupu, saudara jauh atau apalah itu mulai bertanya kepadaku tentang kelanjutan pendidikanku. Jika aku (misalnya) sudah diterima di salah satu PTN impian dan jurusan impian, aku tidak akan ragu untuk menjawabnya, malahan aku akan sangat menunggu pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi karena aku belum terikat dengan kampus manapun, rasanya sangat sulit sekali untuk menjawabnya. Kalaupun di jawab, aku menjawabnya dengan muka yang agak sedikit tertekuk, tapi aku sempatkan untuk memberi senyuman. Ya, aku belum kuliah, dan akan kembali bertempur tahun depan. Dan alhamdulillah, keluargaku tidak ada yang mengejekku sama sekali, malahan mereka menyemangatiku dan mendukungku untuk sukses. Mereka bilang masih banyak waktu untuk membuktikannya, masih banyak jalan, dan percaya pada diri sendiri jangan terpengaruh oleh omongan orang yang mencibir.

Sebelum pengumuman SBMPTN yang lalu, aku sudah berniat untuk mengambil gapyear bila tahun ini belum rezekiku di SBMPTN. Aku sendiri tidak berniat untuk mengikuti Ujian Mandiri karena beberapa hal. Aku sudah mantapkan untuk mengikuti tes SBMPTN 2018 tahun depan, meski satu tahun bukanlah waktu yang begitu singkat, apalagi jika tidak ada kegiatan sama sekali. Mungkin dari kalian masih belum tahu apa itu istilah gapyear. Menurut berbagai sumber yang telah saya baca, gapyear adalah kegiatan menunda pembelajaran atau aktivitas seperti yang biasa dilakukan seseorang selama kurang lebih satu tahun pada umumnya. Atau jika lebih disingkatkan lagi, yaitu bagi lulusan SMA yang memutuskan untuk menunda kuliahnya selama satu tahun. Istilah ini sering dipakai oleh lulusan SMA di Eropa sana. Bahkan anak dari Barrack Obama pun mengambil gapyear setelah lulus dari SMA­-nya.

Jika mengambil gapyear, beban sudah pasti ada. Mulai dari kurang percaya diri, tidak enak kepada kepada orangtua, dan juga hal-hal lain seperti pertanyaan “Mau ngapain aja lo selama setahun?”, “Mau kerja? Emangnya lo punya keahlian apa?”, “Mau diem aja dirumah?”, “Dirumah ngapain aja lo?”, “Yakin mau belajar lagi selama setahun?”, dan banyak lagi. Awalnya saya merasa sedikit agak terganggu ketika banyak teman-teman yang bertanya kuliah dimana dan saya langsung menjawabnya mau lanjut tahun depan. Ketika ditanya balik, dia udah kuliah. Malu sih (kalo malu wajar), apalagi (bukannya sombong) prestasi saya di sekolah cukup baik, selalu ada di peringkat 3 besar atau lima besar di kelas. Masa anak yang di kelasnya masuk 5 besar kalah sama yang gak dapet 10 besar sih? Kan gengsi. Itu sih menurut anggapan mereka, tapi saya tidak gengsi sama sekali, malahan saya lebih semangat untuk mengambil gapyear. Inget, gapyear itu bukan hanya menganggur selama setahun menunggu kuliah tahun depan, tetapi banyak sekali kegiatan yang bisa diisi selama satu tahun itu untuk mengembangkan jati diri sebenarnya. Untuk lebih jelasnya, saya akan mengungkapkan beberapa kelebihan jika mengambil gapyear dari para alumni yang sudah melakukan gapyear (dari berbagai sumber).

Kelebihan mengambil gapyear :

1.      Mempunyai banyak waktu untuk menentukan tujuan
Yang pertama kelebihan dari ambil gapyear ini adalah kamu bisa menentukan apa sih tujuan saya ke depannya. Kamu bisa mempunyai banyak waktu untuk berpikir sambil travelling ataupun menyendiri di kamar tanpa ada gangguan orang lain. Kamu bisa menentukan jurusan apa yang seharusnya di ambil tahun depan dan begitu pula dengan kampusnya yang cocok.

2.      Bisa bekerja part time
Yang kedua kamu bisa mengisi kekosongan hari-hari kamu dengan bekerja atau magang di suatu tempat, mungkin kamu bisa bekerja kecil-kecilan, membantu orangtua, atau menulis/ngeblog yang bisa menghasilkan pundi-pundi keuntungan untuk menambah biaya kuliah di tahun depan. Sambil bekerja, kamu juga bisa sambil belajar untuk memperisapkan tes SBMPTN atau ujian lainnya dari jauh-jauh hari.

3.      Mengenal orang baru dan lingkungan baru
Yang ketiga masih berkaitan dengan poin yang kedua. Ketika kamu bekerja di suatu tempat yang baru, otomatis kamu akan bertemu dengan teman-teman baru yang siapa tahu bisa menjadi sumber inspirasi untuk tujuan kamu ke depannya. Dan dengan itu semua, kamu bisa memperoleh pengalaman baru yang tidak di dapat oleh teman-temanmu yang sedang berkuliah.

4.      Bisa lebih menyiapkan diri
Dengan waktu satu tahun, kamu bisa lebih menyiapkan diri untuk menghadapi masa kuliah. Kamu pun bisa beristirahat setelah 12 tahun lamanya menempuh pendidikan. Sehingga otakmu pun akan lebih fresh. Kamu juga bisa lebih siap menerima semua kenyataan dan juga lebih siap untuk mempersiapkan segala-galanya yang akan kamu tempuh beberapa tahun mendatang. Kamu pun bisa lebih siap untuk belajar mempersiapkan beberapa tes ujian masuk, baik dengan cara bimbel, belajar sendiri dengan mengulang materi pembelajaran, membeli buku panduan, kursus bahasa asing, dan lain sebagainya.

Nah, mungkin itu beberapa kelebihan ketika kita mengambil gapyear atau menunda kuliah setahun atau lebih. Mungkin kita akan mendapatkan keuntungan yang lebih banyak lagi ketika merasakannya sendiri nanti. Saya pun membaca di berbagai artikel, banyak sekali testimoni-testimoni alumni yang diterima di SBMPTN atau ujian-ujian lainnya seperti USM PKN STAN, SIMAK UI, UTUL UGM, SMUP UNPAD setelah sebelumnya mereka mengambil gapyear alias menunda satu tahun karena berbagai hal, baik yang ditolak tahun sebelumnya, diterima tapi tidak sesuai dengan jurusan yang diinginkan, dan lain sebagainya.

Bagi sebagian orang mengambil gapyear mungkin bukan pilihan yang tepat karena berbagai alasan, tetapi jika dilihat dari sudut berbeda, mengambil gapyear justru memberikan banyak keuntungan bagi kita dalam beberapa hal, asalkan kita bisa memanfaatkan waktu satu tahun atau lebih dengan baik dan juga kegiatan yang bisa melecutkan semangat juang kita. Gapyear ataupun tidak, itu semua tergantung keinginan hati kita, toh diri kita sendiri yang menjalankannya, bukanlah orang lain. Yang saya bagikan disini, saya hanya ingin sedikit bercerita atau curhat lah untuk sekedar memberikan motivasi kepada kalian semua yang saat ini masih merasa bimbang.

Jadi intinya, setelah lebaran ini banyak sekali motivasi untuk bagaimana kita akan melangkahkan kaki demi meraih semua mimpi-mimpi kita, apa yang harus kita lakukan, dan bagaimana kita bisa mewujudkannya. Jangan jadikan beban jika ada orang yang bertanya kuliah dimana, cukup jawab saja : “secepatnya saya akan menyusulmu”. Jadikan pertanyaan-pertanyaan yang kurang enak di hati sebagai pelecut semangat untuk terus berjuang demi apa yang kita impikan. Bersabarlah, semua yang kita inginkan harus dibarengi dengan perjuangan. Dan percayalah, bahwa usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil.

SALAM SUKSES DARI SAYA! :D :)

Selasa, 13 Juni 2017

SBMPTN 2017 : Bersyukur Walaupun Gagal



Baru kali ini gue bikin artikel pake gue-elo­­, biasanya pake aku-kamu, gak papa kali ya supaya lebih akrab dan gak kagok aja gitu, hehe.
Gak kerasa nih SBMPTN 2017 udah sampai pada titik puncaknya : pengumuman. Semua pejuang SBMPTN di Indonesia mau itu siswa SMA, MA, SMK, ataupun alumni tahun 2016 atau 2015 pasti deg-degan banget deh buat buka website SBMPTN untuk ngeliat hasilnya. Begitupula dengan gue yang mengharapkan hasil lebih di SBMPTN 2017. Karena sebelum SBMPTN ini, gue udah gagal sebanyak dua kali. Pertama gue gagal di SNMPTN. Sekitar satu bulan yang lalu tepatnya tanggal 26 April hari Rabu, hal yang paling gue tungguin akhirnya tiba juga : pengumuman. Ya, gue berharap banget sama hasil SNMPTN agar gue gak diketemuin sama yang namanya tes. Gue gak mau bertemu dengan SBMPTN. Waktu itu gue ada di rumah temen lagi selametan ulangtahunnya—walaupun ulangtahunnya bulan Juli sama kaya gue—plus doa agar hasil SNMPTN memuaskan. Untuk mempersingkat waktu, kita semua pun ngobrol-ngobrol setelah makan agar jam 14.00 tidak terasa. Cuacanya saat itu hujan, dan hati gue deg-degan banget. Sesekali gue liat jam di handphone, waktu itu gue kaya di kejar-kejar sama sesuatu yang menyeramkan gitu. Gue takut kalo gue gak bakal lulus, karena waktu itu gue ngambil UNPAD sama UPI. Walaupun nilai raport gue gak terlalu bagus-bagus amat dan guru pun gak menyaranin gue buat ke UNPAD karena nilai gue yang sedikit belum memenuhi kriteria, gue pun gak ngedengerin dan tetap pada pendirian gue. Di pilihan pertama dan kedua gue pilih UNPAD untuk jurusan Matematika dan Sastra Indonesia, di UPI gue juga milih Matematika. Kenapa gue pilih Matematika? Karena selain gue rada-rada­ suka sama pelajarannya, nilai paling gede di raport yaaa Matematika (dan itu merupakan kesalahan terbesar gue, karena nilai gede di raport belum tentu lo harus ambil jurusan itu). Dan kenapa gue milih Sastra Indonesia?  Karena gue suka sama yang berbau sastra, gue suka novel, dan gue juga suka nulis meski gak sering-sering amat. Alhasil sekitar jam setengah tiga siang, ketika gue buka di laman mirror-nya karena website utamanya lagi error karena banyak yang ngakses, gue waktu itu buka di websitenya UGM, dan apa yang terjadi?


Gue gagal di SNMPTN. Awalnya gue sempet lemes, tapi temen gue ada yang bilang coba sekali lagi siapa tahu itu lagi error kaya waktu daftar SNMPTN kemarin. Gue pun tersugesti dengan teman gue, akhirnya gue buka lagi tuh di website yang lainnya, dan gue pun harus terima kenyataan bahwa gue belum bisa dapet di SNMPTN. Dan soal-soal SBMPTN pun menanti. Saat itu, gue belum sama sekali ada persiapan buat SBMPTN (sebuah keteledoran yang sangat fatal). Sebenernya gue masih punya harapan di SPAN-PTKIN alias SNMPTN-nya Perguruan Tinggi Negeri Agama Islam. Gue daftar di UIN Bandung dan UIN Jakarta. Jujur aja, gue ngisi jurusannya cuma asal-asalan doang, di semua 4 jurusan yang gue pilih itu belakangnya ada kata Syari’ah-nya. Pengumumannya tanggal 1 Mei, satu minggu setelah pengumuman SNMPTN, dan hasilnya? Kalian semua pada tau lah, gue gagal lagi.
2 hari setelah pengumuman SNMPTN, gue langsung daftar tuh buat SBMPTN. Semua yang harus diisi gue isi. Gue ngambil UNPAD lagi di pilihan pertama dan keduanya. Untuk kali ini di jurusan pertama gue pilih Matematika, sementara pilihan keduanya gue pilih Teknik Geologi. Di pilihan ketiga gue pilih IPB jurusan Matematika. Kenapa gue gak pilih Sastra Indonesia? Karena gue gak mau ambil IPC, dan gak bakal cukup waktu kurang dari satu bulan buat pelajarin materi anak IPS (karena gue anak IPA), dan gue pun memutuskan untuk pilih tes kategori SAINTEK. Jujur aja, untuk Teknik Geologi gue pilih pas daftar SBMPTN-nya, maksudnya sejak hari itu gue pilih Teknik Geologi karena selain kuotanya besar dan PG-nya juga gak terlalu besar, alhasil gue klik lah itu jurusan, tanpa pikir panjang dulu sebelumnya. Gue kebagian di panlok Bogor dengan sistem PBT. Ternyata pas gue liat-liat lagi di PG UNPAD, ternyata PG Teknik Geologi lebih besar dari Matematika. Waktu itu gue ngerasa gimana gitu, tapi kan PG itu belum tentu benar, tapi yang ngeluarinnya di akun UNPAD sendiri. Dan gue pun mencoba menerima apa yang akan Allah berikan sama gue.
Dan tibalah tanggal 16 Mei. Karena jarak rumah gue yang jauh ke lokasi ujian, gue pun nginep di rumah temen. Sebenernya gue gak terlalu yakin dengan yang akan gue isi di ruangan. Gue cuma bisa sedikit TPA-nya itu pun Inggrisnya masih rada-rada belum ngerti dan buyar banget di TKD-nya.
Setelah pulang dari lokasi ujian tepatnya jam 9 malem, gue pun langsung istirahat di rumah sebelum selancar internet dulu. Gue pun harus nunggu sekitar satu bulanan untuk ngeliat hasilnya. Dan tepat hari ini, jam 16.30 sore karena jam dua websitenya lagi banyak-banyaknya yang buka, gue pun udah siap dengan segala kemungkinan. Gue berdoa sama Allah supaya hasil ini adalah hasil terbaik yang gue dapet. Untuk buka pengumuman SBMPTN ini gak ­sewas-was ketika mau buka hasil SNMPTN bulan lalu, karena gue bakal terima jika gue gagal di SBMPTN kali ini. Gue pun udah ngomong sama ibu gue kalo gue belum tentu diterima, dan jawabannya pun gak gue sangka-sangka. Ibu gue bilang gak papa kalo gak lulus, masih ada tahun depan, kan persiapannya bisa lebih matang. Ketika mendengar jawabannya, gue langsung bersyukur sama Allah karena walaupun hari ini gue gagal, seenggaknya ibu gue bisa terima. Gue bisa persiapan kurang dari satu tahun tanpa ada rasa bersalah meski pasti ada sedikit-sedikit mah, gue gak peduli cemoohan orang lain, gue gak peduli sama orang yang ngomongin gue, gue gak peduli sama mereka yang ngeremehin gue. Dan website utama pun gue buka, hasilnya :



Gue gagal di SBMPTN. Kalian tau apa yang gue rasain ketika ngeliat pengumumannya? Ya kecewa pasti, tapi lebih dari itu gue sangat bersyukur sama Allah karena gue tau Allah gak bakalan kasih sesuatu yang diinginin hambanya tanpa ada rasa berjuang dan kerja keras. Dan gue sadar selama ini usaha gue masih belum maksimal, bayangin untuk persiapan SBMPTN yang soalnya jauh super sulit dari soal UN aja, persiapan gue kurang dari satu bulan, itu pun masih leha-leha. Gue bersyukur karena gue yakin Allah ingin ngeliat gue usaha dan berjuang lebih keras lagi demi apa yang seharusnya gue raih dan capai, Allah ingin ngeliat keringet tulus gue demi mimpi yang akan gue capai. Gue gak bakalan nyia-nyiain kesempatan ini. Gue pastiin gue GAK AKAN ngulangin kesalahan yang pertama. Dan tahun depan, gue akan berjuang lagi di SBMPTN. Kenapa gue gak ambil UM? Karena daftarnya pake duit gede hahaha. Dan kenapa gue gak ambil swasta aja? Karena gue gak bakal pergi dari apa yang seharusnya gue kejar.
Sekali lagi, gue GAK AKAN dan GAK BAKAL ngulangin kesalahan yang sama, gak bakal jatuh ke lubang yang sama, gak akan gagal untuk yang kedua kalinya. Gagal 7 kali, bangkitlah 8 kali. Gue gagal 3 kali, dan gue bakal bangkit lebih banyak dari kegagalan-kegagalan gue itu.
Gue saranin sama lo yang sekarang lagi duduk di kelas 11, persiapkanlah matang-matang dari sekarang. Jangan sampai menyesal nantinya. Dan gue saranin pula, jangan sekali-kali lo ngarepin hasil SNMPTN. Lo harus fokus ke SBMPTN kalo lo yang mau ke negeri. Anggap aja SNMPTN itu sebagai bonus. Kalo lo lulus di SNMPTN ya syukur mungkin lo pantes. Tapi kalo lo ga lulus SNMPTN, lo gak usah khawatir lagi karena lo udah ada persiapan dari jauh-jauh hari buat ikut tes SBMPTN.
*Selamat buat kalian yang lulus SBMPTN tahun ini dan gak bakalan ngulang tahun depan, gue doain semoga lo semua bisa menempuh pendidikan yang lebih tinggi di kampus lo dengan baik dan semangat. Dan buat lo semua yang senasib kaya gue gak diterima di SBMPTN, ingat bro masih ada tahun depan, masih banyak jalan menujur Roma. Jangan pernah patah semangat, jangan jadikan ini sebagai alasan lo bahwa dunia gak pernah adil sama lo. Jadikan kegagalan ini untuk alasan, bahwa lo bisa jauh lebih baik dari sekarang. Jadikan kegagalan ini sebagai alasan, bahwa Allah ingin ngeliat perjuangan lo yang lebih lagi demi raih impian-impian lo. Jangan sampai dengan kegagalan ini membuat jiwa lo mati. Dan percayalah, janji Allah itu pasti. Semoga kita bisa berjuang di kesempatan selanjutnya dan membuktikan bahwa kita bisa meraihnya, Aamiin.
SBMPTN 2018, I’M COMING !!! :)

Sukabumi, 13 Juni 2017
Pukul 20:52